Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #26

Bagian 26 Jingga Nuansa Senja

Arya menyusulku ke dalam ruangan rawat inap. Ia membantu perawat untuk memindahkanku ke ranjang di kamar ini. Mamak memandang anakku dengan penuh kasih. Ya, bisa dibilang ia adalah cucu pertamanya dan mungkin cucu satu-satunya. Walaupun kedatangan Mamak dan Dita agak terlambat, tapi bisa kurasakan ketulusan dari keduanya. Mereka peduli padaku.

“Ya… terima kasih,” ucapku sambil meraih baju lengan panjang Arya.

With my pleasure, Sih… sudah kewajibanku. Ada yang terasa sakit?” tanya Arya dengan nada lembut. Aku menggeleng. Rasa sakit yang menerjang beberapa jam ini terasa menguap begitu saja setelah gadis kecilku lahir.

“Sudah siapin nama?” tanya Arya.

“Belum… kamu aja yang kasih nama,” pintaku padanya. Kuberikan kehormatan itu padanya sebagai tanda terima kasih.

“Hmmm… langit di luar sana sedang berwarna jingga, Sih. Hmm… gimana kalau Jingga Nuansa Senja?” usulnya padaku. Aku mengangguk. Dita dan Mamak juga setuju dengan nama yang diberikan Arya.

Arya juga tersenyum bangga karena berhasil menanganiku dengan baik. Walaupun aku mendengar percakapan di unit gawat darurat tadi dan membuatku ingin agak menjauh dari sosoknya. Aku takut akan mengecewakannya lagi dan lagi. Pasca melahirkan adalah fase yang melelahkan juga. Aku harus bergelut dengan ASI yang tak kunjung keluar dan juga rasa sakit saat pertama menyusui. Beruntungnya aku ditemani orang-orang yang tulus padaku. Arya, Mamak dan Dita, juga trio CS yang datang bersama Dira. Semua terasa cukup. Setidaknya ada orang-orang yang berpihak padaku. Aku bisa terus bertahan demi Senja. Rekan-rekan guru di sekolah juga menjengukku di rumah sakit, hingga akhirnya jadwal kepulanganku datang. Mamak berusaha membujukku untuk pulang ke rumah. Tapi, aku tidak mau. Aku mau menempati rumah yang diberikan Ozie. Aku ingin menghilang dari kehidupan Bapak dan juga Abi. Aku ingin bersembunyi dari mereka. Setelah mendengar penjelasanku, Mamak akhirnya luluh.

“Nak Arya, dengan kondisi Kasih, apakah Mamak tega meninggalkan dia sendirian di rumah itu?” tanya Mamak saat Arya datang untuk menggendong Senja.

“Kesehatan Kasih yang lebih diprioritaskan, Mak. Kondisi psikologisnya juga harus dijaga, jika di rumah itu Kasih malah rentan terkena baby blues kita biarkan Kasih memilih untuk tinggal di rumah Ozie saja. Saya akan sesekali menjenguknya untuk mengecek kondisi kesehatannya. Mamak jangan khawatir, atau Mamak mau tinggal sama Kasih saja?” bujuk Arya pada Mamak. Mamak tampak ragu, karena disisi lain ia juga khawatir dengan kondisiku tapi disisi lain Mamak pasti memikirkan Bapak.

“Mamak biar temani Kasih waktu malam ya, Nak Arya. Kalau siang kamu tahu sendiri kondisi Bapaknya Kasih seperti apa,” ucap Mamak menjelaskan pada Arya. Arya sudah mengetahui kondisiku sejak kami masih di bangku sekolah. Beberapa kali aku menangis di bawah pohon pinus ditemani Arya. Ia membiarkanku menangis sepuasnya. Melindungiku agar tidak terlihat teman-teman sekolahku yang lain. Setelah dia pindah ke luar kota, aku memang kehilangannya. Hingga kutemukan sosok Ozie yang memiliki kepedulian dan karakter yang hampir sama dengan Arya.

Arya membantu memasukkan barang-barangku ke dalam mobilnya. Mamak menggendong Senja dan aku berjalan perlahan-lahan ke luar ruangan. Beberapa bingkisan kue yang sudah dibelikan Mamak kuberikan pada perawat-perawat yang membantuku selama di rumah sakit ini. Kuucapkan terima kasih dan permintaan maaf pada mereka. Arya menyusulku saat berpamitan di ruang jaga perawat.

“Terima kasih sudah menjaga Kasih dengan baik-baik teman-teman,” ucap Arya menambahi dari arah samping.

“Ciyeee…..” goda perawat-perawat itu dengan kompak. Aku hanya melihat sosok Arya yang salah tingkah. Senyumnya merekah lebar, matanya tak bisa berbohong. Hal ini yang membuatku tak nyaman, karena aku tak bisa membalas perasaannya. Aku menabok lengannya karena membuat rumah sakit ini heboh.

“Kamu ini kenapa sih?” godanya.

Lihat selengkapnya