Malam perdana Senja bermalam di rumah barunya. Rumah ini akan menjadi cangkang kami untuk pulang dari pekatnya dunia. Aku berjanji pada gadis kecilku ini akan berjuang sekeras mungkin untuk membesarkannya. Aku akan menjaga amanah ini sebaik mungkin, termasuk menjaga rumah Ozie. Tangisan Senja membuat suasana malam yang sepi menjadi ramai. Mamak dan Bu’e memang sengaja menemaniku. Keduanya selalu sigap masuk ke dalam kamar ketika mendengar suara tangisan Senja. Keduanya juga sangat hati-hati menjagaku. Di tengah badai kehidupanku, ada satu yang sangat kusyukuri. Perlahan hubunganku dengan Allah semakin dekat. Kadang kalau kita mau berpikir positif, dibalik hal yang kita anggap buruk dalam hidup kita masih ada hal-hal baik di dalamnya. Begitu pula dengan kehidupanku, anggap saja hidupku ini berantakan setelah menikah. Tetapi, Allah memberikanku pandangan yang berbeda, lebih tenang menghadapi masalah karena tak ada yang bisa kujadikan sandaran kecuali Dia. Sedari kecil walaupun orangtuaku bersama dalam satu atap, tapi keadaan mereka tak bisa kujadikan sandaran. Aku besar dengan penolakan Bapak, dan juga harus melihat Mamak berjuang membesarkanku dengan keadaan rumah tangganya yang bisa dikatakan tidak harmonis. Walaupun aku bisa berkeluh kesah pada Mamak, tapi aku tak bisa membebaninya.
Aku adalah orang yang pantang berhutang budi pada siapapun, terkadang orang yang memberikan bantuan pada kita tidak tulus. Ada suatu masa ketika apa yang kita lakukan, kita berikan tidak sesuai ekspektasinya, ia akan mengungkit semua pemberiannya. Hal itulah yang membuatku berusaha untuk tidak merepotkan siapapun. Termasuk ibunda Ozie yang sudah memberikan rumah Ozie untukku. Sebenarnya ada rasa sungkan dan rasa tidak enak menerima pemberian sebesar ini, tapi demi menunaikan wasiat Ozie aku menerimanya.
Proses mengasihi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Mulut bayi yang baru lahir sangat tajam. Terbukti putingku yang harus terluka dan aku harus berjuang menahan perihnya. Salah satu hal yang kusyukuri Mamak dan Bu’e tidak pernah meninggalkanku sendirian. Sesekali Arya dan kedua sahabatku, Dira dan Dita juga datang berkunjung. Hanya mereka yang mengetahui keberadaanku di tempat ini. Tak kusangka sore itu ada tamu yang benar-benar datang ke tempat persembunyian kami. Haji Akbar, kakek anakku. Ada rasa was-was tapi ada satu keberuntungan dengan kedatangannya, aku tidak perlu susah-susah datang ke kediamannya untuk mengembalikan uang yang ia berikan. Sesuai dengan permintaan Abi, aku akan mengembalikan semua yang diberikan ayah mertuaku tanpa mengurangi pemberiannya sedikitpun.
Kubuka pintu dengan perasaan yang campur aduk. Dengan rasa hormat kusambut tangannya dengan mencium tangan yang mulai berkeriput itu. Senyumnya merekah, melihat sosok Senja yang sedang digendong oleh Mamak di sudut ruangan.
“Mana cucuku, Nak?” ia segera beranjak dan menghampiri Senja. Matanya berbinar melihat sosok mungil dalam gendongan Mamak.
“Bapak tahu dari mana saya ada di sini?” tanyaku penasaran.
Setelah mencium kening cucunya, ia menjawab pertanyaanku, “Aku mengikuti Mamakmu, Sih. Walaupun bagaimanapun Bapak sudah menganggap kamu seperti anak Bapak sendiri. Terlepas kondisi pernikahanmu dan Abi yang hampir diujung tanduk. Bapak ini adalah kakek dari anakmu. Tolong, Nak. Izinkan kakek tua ini menghampiri cucunya.”
Aku menghela nafas panjang. Ada ketakutan Abi bisa menemukan aku di sini, tapi aku tak mau berburuk sangka dengan kedatangan Haji Akbar. Ia sosok yang tulus padaku. Kupersilakan ia untuk duduk, Mamak juga mengizinkan Haji Akbar untuk menggendong Senja. Aku berjalan ke arah dapur, kubuatkan teh hangat dengan perasan jeruk nipis kesukaan beliau.
“Dia sudah dikasih nama?” tanya Haji Akbar pada Mamak.
“Sudah. Jingga Nuansa Senja. Panggilannya Senja, Mas,” jawab Mamak. Mamak nampak khawatir juga. Aku tahu kekhawatirannya sama denganku.
“Mas… Abi nggak tahu kan kalau kamu ke sini?” tanya Mamak dengan perasaan ragu.