Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #28

Bagian 28 Melanjutkan Hidup

Hari yang kunantikan telah tiba, undangan wisuda dan beberapa gladi telah terlaksana. Untuk pertama kalinya Senja kutinggalkan di rumah bersama Mamak. Senja termasuk anak yang pandai, ia tidak rewel sama sekali. Mamak bersedia menunda pekerjaannya di ladang untuk menunggu cucunya. Setelah kepergian bapak, Mamak lebih sering menghabiskan waktu di rumah Ozie bersama kami. Entah di mana keberadaan beliau sekarang. Tapi, tanpa kehadirannya Mamak bisa lebih ringan dan banyak tersenyum. Aku selalu berdoa agar Mamak bisa bahagia dan bisa keluar dari belenggu yang menjeratnya selama bertahun-tahun. Kupandangi wajah wanita paruh baya itu lekat-lekat saat hendak tidur. Tampak jelas wajah yang terlalu lelah menghadapi kerasnya hidup. Tangannya tampak kasar, kakinya pecah-pecah dan wajah teduhnya itu selalu membuatku kagum. Wajah teduh yang penuh rasa sabar menghadapi kehidupan yang terkadang tidak sesuai yang diharapkan. Sekarang aku bisa mengerti kebahagiaan seorang ibu adalah anak-anaknya karena sekarang kebahagiaan Senja adalah prioritasku. Begitu pula aku sebagai anak, harus memberikan kebahagiaan untuk Mamak. Akan kuusahakan, akan kuupayakan hingga Mamak bisa tersenyum lepas mendapatkannya.

Saat wisuda sudah tiba, pagi-pagi buta aku datang ke rumah seorang Makeup Artist yang hasil karyanya sesuai dengan seleraku. Hari ini aku harus tampil cantik, walaupun badanku besar akibat hamil dan menyusui, akan kupastikan hari ini aku tampil memukau setidaknya untuk diriku sendiri, bukan orang lain. Aku sudah tak butuh validasi dari orang lain. Aku adalah versi terbaikku. Ditangan wanita berumur kepala tiga itu, wajahku benar-benar disulap menjadi bak seorang yang berbeda.

“Hmm… skin tone kulit kamu emang sudah bersih, mau dirias kayak apapun juga OK,” puji wanita itu. aku tersenyum sambil berterima kasih serta menyodorkan amplop berisi uang untuk membayar jerih payahnya. Kupakai kebaya berwarna mocca dengan jilbab senada. Hari ini, Senja juga sudah siap dengan pakaian terbaik yang sudah kusiapkan. Setelah memesan jasa rental mobil beserta sopirnya kami bertiga berangkat ke kampus. Memasuki gedung kampus tiba-tiba bayangan wajah Ozie hadir. Andai ia masih di sini, mungkin ialah yang akan menjadi orang yang paling antusias. Mataku sembab, Mamak menyadari kegundahanku. Sambil memandang wajah Senja yang tertidur, aku tersenyum. Kisah kami baru dimulai, ini bukanlah akhir. Ada beberapa hal yang harus kami kejar dan kami selesaikan.

“Ibun akan mengupayakan kebahagiaanmu, Nak. Kamu tak usah khawatir, walaupun keluarga kita berbeda dari orang lain. Akan kuupayakan kamu tak akan kekurangan kasih sayang dan materi. Ibun janji akan kerja keras demi kamu,” bisikku lirih sembari mencium kening Senja. Mamak menggenggam tanganku erat-erat.

Acara wisuda berjalan khitmat. Beberapa kali kucari Senja dan Mamak di bangku keluarga. Senyumku merekah ketika tak ada suara tangisan bayi di ruangan selama acara berlangsung, ternyata Senja sudah bisa diajak kerjasama dengan baik. Sepulang dari kampus kami mampir ke sebuah studio foto yang sudah dipesankan si Dira beberapa dulu. Ia menghadiahkannya kepadaku. Sungguh aku bersyukur dikelilingi orang-orang baik di keseharianku. Setelah selesai, akhirnya kami pulang. Setelah memastikan Senja bisa kujaga sendiri, Mamak pamit pulang. Ia mencium pipi Senja beberapa kali.

Sambil menimang Senja dan duduk menikmati hamparan pohon-pohon hijau, pikiranku melayang jauh. Pertanyaan-pertanyaan muncul di dalam hatiku.

Ya Allah, apa yang Engkau rencanakan untuk hidupku? Apakah ujian ini yang Kau berikan agar menguatkan kakiku? Kau menguatkanku sebagai seorang wanita dan seorang Ibu? Sungguh Ya Allah, aku rela dan ridho dengan takdirku, tapi aku selalu berharap Kau akan memberikan kebahagiaan yang tak terhingga padaku dan pada anakku, Ya Rabb… sekarang diri ini hanya bisa bersandar padaMu. Tak ada yang bisa kujadikan penolong kecuali Engkau,” batinku sambil memandang langit. Riuhnya burung-burung yang terbang dari pohon satu ke yang lain semakin menambah syahdu suasana. Ponsel di atas meja kecil di depanku bergetar. Kugeser jus wortel lemon di dekatnya. Kuraih ponsel itu untuk melihat pesan siapa yang datang.

How are you today, Ibun Senja? Selamat atas wisudamu. Kamu tunggu aja ya, bentar lagi hadiahku datang. Semoga kamu suka. Jangan dilihat dari barangnya, ya!

Hadiah? Tak pernah terlintas dalam pikiranku akan mendapat perayaan seperti ini. Kubalas pesan sahabatku itu dengan tegas.

Thank you, Bro! ngapain sih repot-repot? Jangan aneh-aneh deh

Nggak boleh nolak rejeki, OK! Aku boleh ke sana? Kebetulan aku pulang cepat.

Hmm… oke, aku panggil Dira ya?

Lihat selengkapnya