Sehari sebelum aku mulai bekerja, Mamak mengajakku ke rumah lama. Arya memesankan sebuah mobil pick up untuk mengambil barang-barang di rumah yang diambil oleh Pakde. Mamak memilih barang-barang yang dibelinya dengan uangnya sendiri, barang-barang yang dibeli menggunakan uang bapak ditinggalkan di rumah itu. Bagi Mamak bapak sudah menoreh luka yang teramat dalam dan Mamak sudah tidak mau lagi mengingat kenangan buruk di rumah ini. Dira dan Mak Uti membantu memasukkan barang-barang Mamak ke bak pick up. Bu Tri dan Bu Welas sudah mengintip dari balik pagar rumah mereka. Mereka melihat ke arah kami sambil berbisik dari kejauhan. Gerakan bibir mereka bisa kubaca dari kejauhan. Tapi, aku tak peduli. Biarlah mereka menyebar kabar kepergian kami dan menggorengnya serenyah mungkin. Kami akan tinggal di tempat nyaman tanpa tetangga seperti mereka. Aku sangat berterima kasih pada Ozie karena benar-benar mewujudkan rumah impianku. Rumah dengan lingkungan yang bagus, agamis, dan memiliki pemandangan yang bagus. Setiap rasa terima kasih itu datang akan kulantunkan bacaan Surat Alfatihah untuknya.
“Udah semua, Bu?” tanya sopir mobil pick up warna hitam yang membantu kami. Mamak terdiam agak lama menatap rumah yang sudah lama menjadi saksi kehidupan kami yang berat. Sambil menyeka air mata, Mamak mengangguk mengiyakan pertanyaan pak sopir itu. Dira merangkul tubuh Mamak. Mak Uti memeluk Mamak sambil menangis.
“Maaf Yu… aku sebenarnya sudah tahu rencana bapaknya Kasih. Tapi, aku tak mau membebani pikiranmu, Yu. Maafkan aku yang bungkam ini,” bisik Mak Uti sambil sesenggukan.
“Sudahlah Yu Uti. Mungkin ini adalah cara Allah untuk melepaskan aku dari jeratannya. Aku akan hidup dengan baik dengan anak dan cucuku. Kamu tak usah merasa bersalah, aku ikhlas dengan jalan takdirku.” Mamak mengusap air mata Mak Uti. Dira mencoba menenangkan Mak Uti. Mak Uti mendekatiku dan Senja, ia mencium kening Senja dengan perlahan dan memelukku dengan pelukan penuh kehangatan.
“Mak… jangan khawatir, kami akan baik-baik saja. Mak Uti dan Renzo boleh kok ke rumah kami kalau kangen. Tapi, Mak… Kasih mohon jangan beritahu keberadaan kami jika Bapak pulang ke rumah ini. Kasih mohon…”
Mak Uti menghela nafas sambil menyeka air matanya. Ia mengangguk mengiyakan permintaanku. Kami pamit pada Dira dan Mak Uti. Mobil perlahan meninggalkan kampung yang penuh dengan kenangan ini. Kenangan yang mampu mendewasakanku dan menjadikanku sekuat ini.
“Mau diapakan barang-barang ini, Nak?” tanya Mamak dengan tatapan kosong menatap ke depan.
“Hmm… Mamak nggak mau bawa barang-barang ini?”
Ia menggeleng kepala. Nampaknya trauma itu masih membekas sangat dalam. Aku menggenggam tangan Mamak berusaha menyalurkan kekuatan padanya.
“Mas, bisa bantu kami menjual barang-barang ini?” tanyaku pada Mas Sopir.
“Bisa Mbak, saya punya kenalan pedagang barang-barang bekas. Mau saya hubungkan beliau?” tanya pria berkulit sawo matang itu dengan sopan.
“Saya minta tolong urus saja Mas. Yang penting barang ini jadi uang. Mas ambil komisinya sekalian. Kalau sudah jadi uang njenengan berikan uangnya ke Mamak di rumah ya,” pintaku dengan sopan.
“Siap Mbak!” balasnya.
Mobil melaju perlahan mengantarkan kami ke rumah. Setelah kami turun, Mas Sopir membunyikan klakson untuk pamit. Kami mengangguk padanya. Mamak masih menatap barang-barang di atas mobil pick up itu. Aku menggenggam tangan Mamak dan menuntunnya masuk ke dalam rumah yang menerima kami dengan kehangatannya. Di rumah ini tak ada lagi rasa sakit dan teriakan ucapan kasar.