Sebuah pesan dari Haji Akbar masuk ke dalam ponselku. Ia berkali-kali menegaskan untuk tidak menolak pemberiannya. Uang itu adalah hakku dan anakku karena Abi yang telah lalai menelantarkan kami berdua. Tanganku masih bergetar saat pulang ke sekolah. Melihat saldo dengan angka tiga digit untuk pertama kalinya membuatku merinding. Ketika kita percaya sepenuhnya pada Allah, menjadikannya tempat bersandar, maka Ialah yang akan mencukupi segala kebutuhan kita.
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
“Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” Q.S Az-Zariat : 58.
Kang Imam menungguku di ruangan Tata Usaha, ia masih khawatir karena aku pergi dengan terburu-buru dan mendapatkan perlakuan buruk dari mertuaku. Sesampainya di kantor ia langsung memberondongku dengan pertanyaan. Aku bercerita padanya tentang apa yang kualami, dia membenarkan Tindakan ayah mertuaku dan aku berhak menerima pemberiannya.
“Mbak… kalau aku boleh sarankan gunakan uang itu untuk ongkos ke Baitulloh. Lakukan haji dan umroh Mbak. Adukan semua masalahmu pada Allah di depan ka’bah langsung,” ucapnya yang seakan membuka sebuah tabir yang selama ini menutupi pikiranku.
“Bolehkah, Kang?”
Kang Imam mengangguk. Apakah ini jawaban yang Allah kirimkan atas semua yang kuadukan tiap sepertiga malam? Sungguh aku memang sangat ingin berkunjung ke Baitulloh. Saran Kang Imam kutampung terlebih dahulu. Ia juga menyarankan untuk berbagi pada sesama, pada anak yatim dan duafa karena di sebagian rejeki itu ada hak-hak mereka. Sepulang dari sekolah, aku menceritakan semuanya pada Mamak. Sambil memberikan ASI pada Senja, aku dan Mamak berdiskusi. Aku masih penasaran dengan perkataan ibu mertuaku. Ia menganggapku tak tahu malu seperti keluargaku, apakah ia memiliki dendam pada keluargaku hingga ia bisa berkata seperti itu?
“Mak, sebenarnya ada masalah apa keluarga kita dengan keluarga eyangnya Senja?” tanyaku penasaran membuat Mamak cukup kaget mendengarkan pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari mulutku. Raut wajah Mamak seakan menyimpan cerita yang belum pernah kudengar.
“Dia masih menyimpan dendam itu ya…” balas Mamak tanpa menambahi apapun. Aku masih tenggelam dengan rasa penasaranku.
“Mak… kalau aku berhak atas uang ini. Bolehkah kugunakan untuk bertamu ke rumah Allah?”
Mamak mengangguk. Sorot matanya seakan menyetujui rencanaku. Sebelum kugunakan uang ini, aku harus mencari tahu apa yang belum kuketahui. Beberapa hari setelah mengetahui jumlah saldo rekening itu, aku mencari keberadaan ayah mertuaku. Seperti biasa dia masih sibuk di gudang beras miliknya. Haji Akbar memang memiliki beberapa usaha yang cukup berhasil, salah satunya gudang beras yang sering ia kirim ke Kalimantan ini. Lelaki paruh baya berkacamata itu sedang duduk dengan kesibukannya mencatat di buku warna biru saat aku datang. Beberapa karyawannya tampak penasaran dengan kedatanganku. Ucapan salamku membuat Haji Akbar mendongak ke arahku. Senyum itu merekah, senyum tulus yang tak diwarisi oleh Abi.
“Nak, kalau kamu mau mengembalikan uang itu, Bapak menolaknya,” ucap Haji Akbar.
Aku menunduk sambil mengamati gerakan semut yang membawa remahan makanan di sebelah kakiku.
“Pak… sebenarnya kenapa Bapak sesayang ini pada saya? Bahkan njenengan lebih sayang saya daripada Mas Abi,” tanyaku dengan menatap mata Haji Akbar dalam-dalam. Aku tahu di balik matanya tak pernah ada kebohongan. Dia benar-benar tulus padaku. Haji Akbar terdiam dan menghela nafas panjang.
“Sudah sewajarnya karena kamu menantuku yang sudah kuanggap anak sendiri,” jawabnya.
“Saya rasa ada alasan lain, Pak. Bapak menyembunyikan apa dari saya, kenapa Ibu bisa sebenci itu pada saya? Berbanding terbalik dengan apa yang njenengan lakukan pada saya. Pak, tolong beritahu saya, agar saya juga bisa lega menerima pemberian njenengan,” balasku pada Haji Akbar. Lelaki yang terkenal dermawan itu mencopot kacamatanya. Ia menyambut tatapan mataku yang tajam dan tersenyum.
“Di matamu itu Nak, ada bulikmu di sana,” ucap Haji Akbar sambil tersenyum.