Biduk Retak

Sriasih (Asih Rehey)
Chapter #31

Bagian 31 Keluarga (Tanpa) KK

Sepulang dari umroh, teman-temanku berkunjung. Kuberikan oleh-oleh yang sudah kusiapkan untuk mereka. Aku bahagia melihat mereka senang. Beginilah rasa menebar cinta, rasanya sangat indah. Dibalik kesibukanku mengurusi peternakan dan pekerjaanku. Aku, Arya dan Dira sering berkumpul di rumah. Seperti halnya yang kami lakukan di masa lalu. Berbincang tak kenal waktu dan menikmati makanan enak bersama-sama. Arya menggunakan waktu berkunjung untuk bercengkrama dengan Senja. Gadis kecilku itu bahkan memanggil Arya dengan kata ‘PAPA’. Entah kapan Arya mengajarkan kata itu, aku juga terkejut saat mendengarkan kata itu terucap darinya. Kehidupanku mulai normal kembali walaupun statusku masih istri Abi. Haji Akbar memang tidak menyetujui rencanaku untuk menggugat cerai.

“Hukum saja anak itu dengan menggantung status kalian, semua berkas-berkas sudah ada di tanganmu, Nak. Kamu berhak menghukum anak itu,” ucap Haji Akbar saat mengecek peternakanku yang sudah terisi ayam-ayam petelur.

“Kalau Mas Abi marah bagaimana, Pak?” kejarku.

“Biarkan saja. Biar dia tahu, jika dia hidup seenaknya, maka orang lain juga bisa seenaknya juga. Aku restui hukum saja suamimu itu. Jangan gugat cerai dia, biarkan kamu dan anakmu mendapatkan hak-hakmu.”

Memang benar ucapan Haji Akbar, jika aku yang menjadi penggugat tentu saja aku tidak bisa menuntut hak nafkah. Kuturuti perkataan Haji Akbar. Aku tak memusingkan hubunganku dengan Abi, kuanggap dia sudah tidak hidup di duniaku. Masih ada Mamak, Senja, Haji Akbar dan teman-teman yang sudah seperti keluarga walaupun tanpa KK. Rumahku menjadi tempat berkumpul bagi teman-temanku. Mereka sangat menyukai masakanku walaupun aku baru dalam tahap belajar.

“Bulik, Ibu mau nikah,” ucap Renzo mengalihkan obrolan kami sore itu. Aku dan Arya langsung menengok pada Dira.

“Beneran?” tanya Arya penasaran.

“Lho? Serius? Kamu udah nggak mau berusaha mendekati si Dokter ini?” godaku pada Dira. Janda anak satu itu terbahak.

“Renzo yang memilih siapa yang jadi bapaknya. Aku mau gimana lagi, ya udah aku terima saja, selagi dia bisa menerima anakku dengan catatan khusus tentunya. Lagian si Dokter ini kan udah jadi ayahnya Senja,” jawabnya sambil mengambil milk tea di sampingnya. Arya terbahak mendengarnya. Senja yang ada dipangkuannya diciumnya berkali-kali.

“Ngaco….” Kilahku.

“Tuh, lihat! Anakmu nempel banget sama Arya. Ya, jangan bilang kamu sedang menggunakan jurus kejar anak ayam ya, efektif soalnya. Buktinya aku sendiri korbannya,” ucap Dira. Hanya senyum tengil yang keluar dari wajah Arya. Mataku melirik pada Dira.

“Kamu yakin? Udah nggak trauma?” kejarku pada Dira. Ia mengangguk.

“Aku bisa apa kalau anakku sendiri yang memilih ayahnya, Sih. Renzo sudah nyaman banget dengan si Hantoro. Apalagi dia teman masa kecil kita juga, kan. Kita sudah hafal karakternya seperti apa. Dia berbeda dengan cowok yang mendekatiku di tempat kerja.”

“Kamu cinta nggak?” tanyaku memastikan isi hati sahabatku itu. Senyum malu-malu hadir dari wajah ibunda Renzo itu. Arya masih sibuk bermain dengan Senja dan Renzo, sambil sesekali mengamati obrolanku dengan Dira. Setelah Dira dan Renzo pulang, Arya baru berbicara.

“Sih, kamu mau sampai kapan seperti ini?” tanya Arya sambil menepuk-nepuk popok Senja agar ia tertidur.

“Maksudnya?” tanyaku penasaran.

“Hubunganmu dengan Abi. Mau sampai kapan? Kamu nggak capek?”

“Aku sedang menghukum dia, Ya. Aku memang sengaja menghukum dia seperti ini,” jawabku sambil sesekali mengecek ponselku.

“Aku serius sama kamu, Sih…”

Aku terkejut dengan perkataan Arya. Kutatap matanya, mata yang penuh dengan ketulusan itu. Tapi, hati kecilku selalu menolaknya. Aku tidak mau menyakiti orang sebaik Arya.

“Kamu tahu sendiri hatiku ada siapa, kan? Kamu berhak dapatin yang lebih baik, Ya. Kamu dokter, mapan, ganteng, baik, nggak ada yang kurang dari kamu.”

“Ada… hidupku kurang kalau nggak ada kamu,” sambungnya.

“Ya…”

“Iya Kasih. Aku sabar kok, akan kutunggu sampai kamu siap dan kamu sudah selesai dengan Abi,” ucapnya dengan kepastian.

“Ya… jangan bodoh!” gertakku.

“Nggak, aku nggak bodoh. Aku nungguin orang yang aku cintai kok. Kenapa kamu anggap aku bodoh,” kilahnya. Aku berhenti dan menghela nafas panjang. Arya bukan orang yang mudah menyerah. Sudah beberapa tahun yang lalu ia masih sama dengan pendiriannya. Menunggu orang yang seruwet aku. Bahkan aku tak tahu akan berlabuh di mana biduk retakku ini. Hingga suatu hari, seorang wanita anggun dan cantik datang menemuiku di sekolah. Ia mengajakku berbicara empat mata. Ibunda Nayla. Ia minta maaf padaku dan memohon agar aku bisa mengakhiri hubunganku dengan Abi secara baik-baik. Kutegaskan bahwa aku tidak akan menggugat Abi. Bertahun-tahun hal itu bertahan, hingga akhirnya surat dari Pengadilan Agama datang ke sekolahku. Mungkin karena Abi tak tahu di mana aku tinggal, makanya surat itu dialamatkan di sekolah tempatku bekerja. Gugatan cerai yang dilayangkan Abi. Mungkin sudah waktunya aku mengakhiri dan mengikhlaskan semua ini. Aku akan hidup dengan lebih baik lagi. Mencintai diriku sendiri lebih dan lebih lagi. Pada akhirnya aku memilih diriku sendiri. Kuikhlaskan kisah pahit pendewasaanku ini sebagai karunia pembelajaran dari Allah. Kami bertemu di Pengadilan Agama, sahabat-sahabatku dan Arya menemaniku sepanjang sidang berjalan beberapa kali. Hingga putusan dikabulkan oleh hakim. Statusku sekarang seorang janda, ketika Dira melepasnya, aku yang menggantikannya. Bidukku dengan Abi karam, dan aku berenang menuju pulau harapanku sendirian. Abi dan Hajah Rona menungguku di depan gedung Pengadilan. Senyum sinis Hajah Rona seakan mengejekku. Arya dan Dira mencegahku untuk mendekati mereka. Tapi, ada yang perlu aku selesaikan.

Lihat selengkapnya