***
Pergerakan mereka terhenti setelah mendengar suara Alma yang baru saja datang setelah semua pekerjaan hampir selesai. Bukan hal yang mengejutkan sebab perempuan itu memang sering seperti itu.
"Udah pada beres ya ngurus barangnya?" Dia berbicara dengan santai tanpa rasa bersalah atau tidak enak pada rekan-rekan kerjanya.
Alma memutar bola matanya jengah. Dirinya sangat tidak menyukai perempuan seenaknya itu.
"Kalau aja papi punya saham di sini, udah aku minta pecat tuh cewek," gerutunya sambil merapikan dus-dus bekas produk yang dia rapikan tadi.
"Kok baru dateng sih Ma? Kan hari ini banyak barang masuk." Rania sebenarnya sudah muak mengeluarkan kata-kata itu setiap berada di situasi seperti ini. Sejak awal menjadi leader crew 1 tahun lalu, tingkahnya semakin menguras energi.
"Ya udah sih, udah beres juga kan tanpa aku?" Dia malah sibuk touch up riasan wajahnya. Tangannya tak henti menimpa bedak ke wajahnya itu. "Nanti kamu kirim file laporan barang masuk yang tadi ya. Mau aku laporin ke Pak Johan."
Helaan napas keluar kasar. Mau bagaimana lagi? Daripada nanti dirinya yang kena masalah karena mengajak Alma berdebat, dengan terpaksa dia harus merelakan mental dan tenaganya terkuras.
"Heh anak baru," panggilnya dengan ketus pada Aluna yang sibuk merapikan meja kasir.
Dengan malas gadis itu menoleh. "Kenapa Kak?"
"Kamu udah dapet gaji pertama kan hari ini?"
Sebelum menjawab dia spontan melirik ke arah Rania. Meminta penjelasan atas pertanyaan aneh dari Alma. Kening berkerut. "Iya."
"Bagus. Berarti makan siang kita nanti kamu yang traktir."
Telunjuknya lekas menunjuk dirinya sendiri. Kaget dengan perkataan seniornya. "Kok gitu Kak? Emang harus ya begitu?"
"Ma, kamu ngapain sih? Alma juga baru sebulan kerja di sini udah kamu palak."
"Palak kata kamu Ran? Heh, aturannya emang gitu kan? Kamu nggak inget dulu kita juga begitu di satu bulan kita kerja?" Nadanya sedikit naik. Terdengar tak mau kalah.
"Harusnya kamu jangan sama kayak mereka dulu. Kita juga nggak suka kan digituin? Sikap kamu gini yang bikin orang nggak betah."
Aluna menggigit bibir bawahnya. Dia panik melihat kedua seniornya malah berdebat.
"Udah Kak kok jadi berantem. Iya-iya nanti aku traktir, kita makan sushi okey?" Tiba-tiba hening. Suaranya seolah melerai perdebatan di hadapannya.
Raut wajah Rania tampak memberi isyarat agar dia tak perlu melakukan hal itu. Walaupun sudah dijamin Aluna tidak keberatan secara materi, tetap saja hal ini tidak baik untuknya.
"Sushi? Serius kamu? Gaya banget mau traktir sushi."
"Mau nggak nih?"
"Ya mau lah. Jadi deal ya." Alma segera menutup pembahasan, dia tak mau hari ini gagal mendapatkan traktiran sushi. "Tuh Ran, dia aja nggak keberatan kok. Ya udah sih, lo harusnya ikut seneng."
Langkahnya bergerak mendekat ke meja kasir, ingin segera menghasut Aluna agar menolak saja perkataan Alma.
"Aluna, harusnya kamu tolak aja." Mulutnya mendekat ke telinga gadis di sampingnya. "Kalau mau pun tinggal beliin nasi kremes aja udah cukup. Sayang uangmu kalau dipake traktir dia sushi."
"Nasi kremes apaan Kak? Diremes gitu nasinya?"
Rania terdiam. Mulutnya mengatup cepat. "Ya semacam itu lah."
"Nggak apa-apa sih Kak, santai aja. Kalau aku nggak turutin kemauannya pasti nanti aku makin dikerjain terus selama dia di sini."
Iya juga sih.
"Sekarang aku tahu alesan kasir sebelumnya resign." Aluna mengarahkan tatapan tajam berisi kekesalan dan ketidaksukaan pada Alma yang kini sibuk menonton video di media sosialnya. "Pasti karna orang itu kan?"
"Kamu serius nggak apa-apa? Kalau gitu kamu traktir dia aja, aku nggak usah. Aman kok."
Aluna jadi merasa lucu dengan tingkah Rania kepadanya. Menyenangkan juga punya seseorang yang ingin membelanya selain orangtuanya.
"Udah Kak, nggak usah dipikirin. Bentar lagi buka gerai."
Rasanya masih tidak enak bila ada di posisi Aluna. Dulu, dirinya juga harus menuruti semua perkataan seniornya. Mentalnya benar-benar dilucuti sebagai anak bawang. Jika tidak menurut, dia diancam akan dilaporkan berkinerja buruk kepada atasan. Jika uang bukan motivasinya bertahan, mungkin dia sudah memilih resign. Dirinya yang hanya lulusan SMK tidak memiliki banyak peluang. Di tahun ini, dia berusaha agar bisa mendapat promosi sebagai leader crew agar gajinya bisa sedikit lebih tinggi dari jobnya sekarang. Pada kenyataannya, kebanyakan pekerjaan yang harus diselesaikan oleh Alama sebagai leader selalu ditumpahkan kepadanya. Tentu Rania tak bisa menolak, karena mulut dan akal licik perempuan itu sulit untuk dilawan. Yang paling penting, jaminannya adalah pekerjaannya sendiri.
Tidak semua orang bisa menjadikan pengalaman buruknya sebagai alasan untuk lebih bersimpati pada orang lain. Entah karena ingin membalaskan dendam atas kejadian tidak mengenakkan yang pernah dialami, seseorang malah memilih untuk menjerumuskan diri ke sisi gelap. Bercermin seperti pemeran antagonis yang pernah menelanjangi harga dirinya ... bahkan merobek-robek mentalnya.
Rania menarik napas panjang sebelum membuka total rolling door. 1 jam lagi mal akan segera dibuka dan kondisi gerai sudah siap untuk menyambut berbagai jenis pelanggan. Ponsel di sakunya kembali bergetar tak henti, ada panggilan masuk dari adik pertamanya.
"Iya Mut, ada apa?"
Hening. Tidak ada suara dari balik sana yang meresponsnya.
"Mutia ada apa? Cepetan ini aku lagi sibuk mau buka gerai." Nadanya mulai kesal.
"Aku perlu uang buat keperluan kampus Kak. Ada nggak?" akunya kemudian.
"Perlu buat apa? Bukannya minggu kemarin udah aku kasih jatah 500 ribu. Masa udah habis lagi sih Mut. Jangan dihambur-hambur." Suaranya agak berbisik, tak ingin terdengar oleh rekan kerjanya. "Uang saku dari beasiswamu udah habis juga?"
Mutia sebenarnya sudah berprestasi dari SD. Dia sering sekali aktif mengikuti perlombaan dan mendapat juara kelas. Dan kuliahnya sekarang juga sebagian besar terbantu dari beasiswa akademiknya. Dia juga mendapatkan uang saku setiap semester dan seharusnya bisa lebih meringankan pengeluaran keluarganya. Namun, entah kenapa semenjak semester 1 Mutia sering sekali meminta uang dengan alasan keperluan kuliahnya yang terasa janggal. Rania tidak begitu keberatan jika dimintai uang untuk hal seperti itu, hanya saja Mutia dinilai menjadi sangat boros. Tak dipungkiri, hal tersebut membuat hubungan mereka agak renggang dan tidak sedekat dulu. Mutia terasa asing.
"Dikit lagi, aku butuh buat nambah biaya tugas di kampus Kak. Kalau nggak ada ya udah aku mau minta ke bapak."
"Jangan. Kamu tahu kan gaji bapa di konveksi aja nggak nentu. Berapa emang?"
Smirk kecil tak sadar muncul dari bibirnya. Itu adalah senjata yang sengaja dia keluarkan agar kakaknya tak bisa menolak permintaannya.