Tak kusangka akan tiba hari di mana aku menutup wajah ibuku dengan kain putih. Aku tetap tenang. Sedikit saja gerakan aneh dariku bisa mengacaukan semuanya. Tak ada air mata, hanya keringat yang mulai membasahi kerah kemeja kerjaku.
Oh, bukan. Ibuku tidak meninggal. Dia lagi sembunyi dari orang koperasi yang datang siang bolong menagih setoran.
“Cepat dong, Kalam!” kain putih itu mencetak gerakan mulut ibu yang gelisah.
“Ya sabar, Bu!” balasku agak kesal sambil mempercepat mahakarya kamuflase itu.
Waktu terasa berjalan sangat lambat tapi diiringi dentuman drum milik band AC/DC. Aku menyingkir. Kini ibu membaur sempurna di antara oven antik dan mesin jahit kesayangannya yang dia memang tak pernah rela kena debu.
“Permisi!” seru orang koperasi, disertai ketukan pintu.
Gawat! Aku lengah. Sekarang posisiku masih ada dekat mesin jahit, dan itu lurus ke jendela depan. Sekali saja si orang koperasi mengintip, maka operasi ini gagal total.
Benar saja. Kulihat potongan wajah si orang koperasi mulai bergerak menjelajahi kaca jendela. Spontan aku berguling layaknya tentara elite di film-film, lalu menyembunyikan diri di dekat anak tangga.
“Permisi! Bu? Bu Fatma?”
Bagiku dan ibu, panggilan itu seperti suara dari jurang neraka. Si orang koperasi adalah iblis bertaring, pena serta buku catatan di tangannya adalah trisula, dan dia datang untuk mengambil jiwa kami.
Seolah angin berhenti menghantar gelombang suara kebisingan urban, dan semesta sengaja menyisakan suara si orang koperasi yang masih gigih menyeru nama ibuku. Kadang nadanya agak tinggi, seakan dia sedang menuntut haknya — meski pada dasarnya memang begitu.
Setelah lima menit, kegigihan pria di teras itu berganti jadi tarikan napas yang cukup panjang.
“Ah, kebiasaan,” ujar si orang koperasi terdengar jengkel.
Aku dan ibu masih bergeming. Barulah setelah besi pagar berdenting dan suara sepeda motor si orang koperasi terdengar menjauh, kami berdua memberanikan diri bergerak.
“Akhirnya pergi juga.” Ibu menyingkirkan kain putih itu, menampakkan wajah tirusnya yang dihiasi kerutan halus khas manusia berusia 52 tahun.
“Lagian kenapa harus pakai begituan sih, Bu?” Aku memberi tatapan heran. “Kenapa enggak ngumpet di belakang tembok kayak biasanya?”
“Ya bagaimana mau ngumpet? Sudut-sudut favorit Ibu udah penuh tai kucing kesayangan kamu.”
Aku melirik sekitar. Benar juga. Onggokan najis sudah menyebar di tiga titik. Yang bisa kulakukan hanya mengeluarkan tawa geli, yang dibalas dengan omelan ibu serta perintah untuk membersihkan kotoran-kotoran itu.
Namun, aku tak lekas beranjak. Setelah tawaku usai, aku menunduk memandangi celana panjang hitam dan sepatu cats-ku.
“Sisa berapa lagi sih, Bu?” aku bertanya.
“Koperasi?” ibu meminta konfirmasi.