Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #2

Lagi Keluar

Keheningan masih menjajah ruang tamu. Angin malam juga tak berani menyelinap masuk. Ibu tampak tenang. Di kursi itu, ibu seperti ratu yang sedang mencoba mengumumkan kebijakan pada dua rakyatnya yang berdiri bingung.

“Ibu serius?” Protes itu akhirnya keluar, tapi bukan dari mulutku, melainkan adik perempuanku. Nadanya tidak tinggi, tapi aku bisa merasakan aura pembangkangan khas remaja 19 tahun.

“Serius, Kirana,” ibu menjawab tenang, “dan itu sudah final.”

Aku bisa paham alasan Kirana tak terima dengan ide ibu. Bukan karena mendadak. Hanya saja rumah ini biasa menjadi markas perkumpulan geng Kirana. Kadang di Sabtu malam, mereka menginap, dan aku bisa mendengar mereka bergosip tentang boyband Korea.

“Abang, kasih tahu ibu dong! Abang juga pasti gak rela rumah ini dijual, kan?” Sekarang Kirana malah mencoba menjadikanku tameng.

“Aku setuju-setuju aja, sih,” jawabku santai, membuat Kirana tercengang.

Tatapan ibu tak berubah. “Ibu punya banyak utang. Selama ini abangmu sudah pontang-panting cari uang untuk lunasi cicilan ibu, tapi itu semua belum cukup. Ujung-ujungnya ibu harus bikin utang baru.”

Kirana membuang muka. Aku bisa mendengar dia berdecak kesal.

“Ya udah. Good luck kasih tahu saudara-saudara Ibu. Tahu sendiri kan, mereka tuh kalau udah perkara duit pasti bakal ngalahin lintah darat. Enggak ada kontribusi, tapi malah paling depan minta jatah.”

“Mereka tidak perlu tahu,” kata ibu, tegas. “Kalian tidak usah bocorkan ke mereka soal rencana ini. Tidak usah bocorkan ke siapa pun. Nanti kalau semuanya beres, baru kita kasih kabar.”

Sekali lagi keheningan menjadi penguasa. Kirana melangkah pergi. Kusaksikan dia menuju tangga, terus hingga menghilang. Sementara ibu masih di sini, menungguku mengucap sesuatu.

Faktanya, memang ada. Namun, sepertinya ikrar untuk berhenti berbohong itu masih bisa kulantangkan lain hari. Pembicaraan malam ini membuat suasananya jadi rumit, memaksaku beranjak istirahat.

*** 

 

Tanah pusara kini basah oleh guyuran air dari botol besar di tanganku. Aku masih berdiri. Kupandangi nama bapakku yang tertulis di batu nisan. Setahuku masih ada waktu satu jam sebelum berangkat kerja, dan kupilih menghabiskan beberapa menit pagiku di sini.

Hari itu akan terus tersimpan di memoriku. Hari yang mengubah hidupku selamanya.

Di pagi hari, semua orang berkumpul sebagai pelayat. Bapakku orang baik. Ada banyak wajah tak kukenal datang menghampiri ibu mengucap belasungkawa.

Om dan tanteku yang masih hidup, baik dari pihak bapak maupun pihak ibu, semua juga hadir. Ekspresinya berbeda. Dari pihak ibu tampak simpati, sedangkan dari pihak bapak datar-datar saja.

Anehnya, ibu tak menangis. Dia tetap menyambut pelayat dengan senyum simpul sembari meminta maaf untuk kesalahan bapak semasa hidup. Barulah di kuburan, setelah doa dibacakan, ibu tumbang dan menangis sejadi-jadinya.

Pemandangan itu menghancurkanku. Namun, aku juga tak bisa berbuat banyak.

Lihat selengkapnya