Tak ada hawa seram meski jam menunjukkan angka 02.44 dini hari. Lampu kamarku masih menyala. Aku selalu menghindari layar HP sebagai satu-satunya sumber cahaya. Kupingku disumpal earphone. Mulutku mengunyah keripik asin.
Sekilas info, aku mungkin tipe orang yang akan mengusahakan apa pun untuk mendapat uang receh, tapi pekerjaan menyimpang seperti Vincent tetap masuk dalam pengecualianku. Kuminta opsi lain.
Maka di sinilah aku. Martabak dan soda yang kubawa ke rumah Vincent ditukar dengan proyek mengedit sepuluh video pendek untuk klien dari luar negeri.
Alih-alih tahajud, aku menggunakan waktuku untuk menyelesaikan masalah duniawi secara manual ... atau mungkin digital.
Aku tak punya laptop pribadi, maka senjataku adalah smartphone. Ya. Satu-satunya gawai yang kugunakan untuk menghubungi keluarga, teman, dan tempat kerja, sekarang turut menemaniku mencari penghasilan tambahan.
“Fix this part,” perintah sang klien via chat.
Salah satu keunggulan dunia post-modern adalah kita bisa menjalin kerja sama dengan penduduk belahan dunia lainnya tanpa harus keluar rumah. Menarik. Sayangnya aku masih punya jadwal ketat sebagai budak korporat, tak sefleksibel Vincent.
Terdengar hebat? Tidak juga. Sisi buruknya adalah klien yang rasnya berbeda itu tetap banyak menuntut, sama seperti bos berkulit Asia Tenggara di kantorku.
Ini baru video pertama. Sudah ada lima kali dia meminta revisi. Jika sampai bule itu kabur begitu saja setelah pekerjaanku selesai, maka Vincent akan jadi korban cekikanku untuk melampiaskan kekesalan.
“Perfect,” pesannya. “Next video please.”
Kuletakkan ponselku di meja, lalu kubenamkan wajahku di bantal. Jariku pegal. Seharian bekerja di depan laptop kantor, menarik gas motor sepanjang jalan, lalu mengedit video dengan perangkat yang mulai panas.
“Kalam?” suara ibu mencegahku menghirup debu bantal lebih lama.
Benar juga. Aku lupa menutup pintu kamar. Melihat jam, aku juga sadar ini adalah waktu ibu terjaga untuk tahajud.
Kala aku duduk di tepi kasur, ibu pun masuk dengan wajah tenang. Aku yang gelisah. Ketenangan ibu bisa bermakna ribuan hal, dan meskipun kadang aku bisa menebak yang mana, tetap saja aku merasa terpojok.
“Gimana? Ibu bisa pakai uang kamu besok?”
Manajemen keuanganku sudah bagus, dan amat sangat keberatan mengusiknya. Pekerjaanku belum selesai. Bayaranku? Sudah pasti belum kuterima. Namun, aku tahu bukan jawaban seperti itu yang ingin ibu dengar.
“Belum ada lebihnya, Bu,” jawabku yang mulai diserang kantuk.
Ibu hanya mengangguk. Napasnya panjang, yang aku tangkap sebagai sinyal stres, meski ekspresinya tak berkata demikian. Kala ibu beranjak, nuraniku pun ditampar rasa bersalah.
“Ada sedikit, sih. Ibu pakai aja dulu. Besok pagi aku tarik dari ATM.”
Wajah berkerut ibu menoleh. “Terus kamu bagaimana? Kalau kamu kasih Ibu, tetap ada uang yang dipegang atau enggak?”
Aku paksa tersenyum, bukan karena tak ikhlas, tapi kantuk ini benar-benar mulai menguasai. “Enggak usah dipikir.”