Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #4

Kurang Tahu Juga

Cahaya matahari pagi menerpa jok motorku kala kuparkir di depan sebuah rumah cukup mewah untuk lingkungan urban. Sekitarnya sepi. Lucu juga tempat yang kudatangi ini, seperti melihat keramik putih di antara jejeran panci bolong.

Aku terus mengucap salam. Yang menyahut malah kokok ayam tetangga. Padahal kulihat rumah ini tak terlalu luas, tapi sudah hampir dua menit aku berdiri di depan pagar dan tak ada jawaban.

Barulah ketika aku mengumpulkan niat untuk menghabiskan waktu di tempat lain, pintunya terbuka. Salamku baru dijawab. Yang keluar adalah perempuan gemuk hampir tua, berambut pendek dengan tahi lalat besar di hidung.

“Maaf tadi gak dengar,” ucapnya dengan nada ala ibu-ibu arisan. “Biasalah, lagi sibuk dengar ceramah di HP.”

Aku hanya tertawa formalitas. “Oh iya, enggak apa-apa, Tante.”

Hari ini libur. Setelah telepon yang mengganggu makan siangku di kantor kemarin, aku pun memenuhi undangan. Wanita yang butuh waktu lama untuk membuka pintu? Dialah peneleponnya.

Ratmi namanya. Dia tanteku dari pihak ibu. Aku tidak terlalu paham medis, tapi dari cara jalannya setelah menyuruhku masuk, aku akhirnya melihat kalau rumor tentang diabetesnya memang benar.

“Kalam, sembakonya masih dalam perjalanan. Kamu duduk dulu, ya.”

Benar. Itulah tujuanku ke sini. Menjadi utusan untuk mengambil sembako dari menantu Tante Ratmi yang jadi kepala sekolah suatu yayasan islami.

Bagiku yang sudah sering berkunjung sejak kecil, isi ruang tamu Tante Ratmi tidak membuatku terpukau. Semua hanya dekorasi. Foto umrah, foto suaminya yang jabat tangan dengan Presiden SBY, dan foto wisuda anak-anaknya yang dipajang dekat kipas angin.

Seraya menunggu di sofanya yang mulus, aku masih bisa mendengar suara Tante Ratmi di ruang tengah, basa-basi dan bercerita bangga tentang menantu satunya yang kerja di bank.

“Jadi, bagaimana kerjaan kamu?” Tante Ratmi datang ke ruang tamu dan duduk di singgasananya.

“Alhamdulillah lancar,” jawabku masih diiringi senyum.

“Tante enggak terlalu mengerti soal kerjaanmu. Bahkan baru dengar. Tapi gajinya bagus, gak?”

“Lumayan.” Aku masih santai. Menyebut nominal juga tidak ada gunanya.

“Saran Tante, sih, kamu coba daftar kalau ada lowongan bank, atau jadi staf IT* sekolah kakakmu. Lumayan buat jenjang karier. Daripada kerja yang enggak terlalu jelas masa depannya kayak gitu, kan?”

Aku hanya mengangguk. Jawaban iya dariku juga hanya formalitas.

Lihat selengkapnya