Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #5

Ada Nomor yang Bisa Dihubungi?

Hari-hariku berlalu dengan sedikit modifikasi dari pola rutin. Ke kantor, menjadi budak korporat, pulang naik sepeda motor, lalu mengambil sampingan dari media sosial.

Untung saja aku tidak harus mencekik Vincent. Klien luar negeri itu sudah mentransfer bayaranku. Bukan berarti aku bisa langsung melakukan self reward seperti biasa.

Akan datang hari di mana saldoku harus dikuras lagi, dan sebaiknya aku bersiap. Semua tentang uang. Semua tentang seni bersembunyi dari penagih utang.

Seperti malam ini, dingin dari AC terus mengelus kulit wajahku ketika aku mengetik laporan harian. Tak ada dialog dari teman-teman kerja yang satu ruangan denganku. Aku tidak pusing. Toh sudah hampir jam pulang.

Ketika waktu favoritku akhirnya tiba, sebuah pengumuman memaksa semua karyawan kantor yang kecil ini berkumpul di lobi. Yang benar saja. Siapa pengacau yang menyita tiap detik berhargaku?

“Happy birthday to you~”

Nyanyian itu membuatku menengok. Perempuan paling heboh dari divisi accounting berjalan membawa kotak berisi selusin donat. Aku targetnya.

Seperti yang kubilang, kantor ini kecil. Karyawannya tidak banyak. Jumlah laki-laki lebih dominan, termasuk Pak bos. Dibanding korporasi, lebih mirip tim tempur Ultraman.

Dan sekarang mereka semua ikut bernyanyi. Kurasakan senyum terlukis di wajahku.

Sebenarnya cukup lucu melihat ulang tahunku dirayakan oleh orang-orang yang membicarakanku di belakang hampir tiap hari. Kenapa aku tahu? Ayolah, itu rahasia umum dunia kerja. Semua saling gibah satu sama lain.

Makanya aku lumayan tertutup pada mereka soal kehidupan pribadiku, yang artinya aku juga tidak ragu melakukan kebohongan kecil pada mereka.

Bahkan senyumku di pesta kecil ini juga hanya formalitas. Manusia memang pembohong. Aku bisa melihat senyum orang-orang ini, dan sebagian besar dari mereka hanya ingin menunaikan tradisi kantor.

Make a wish dulu, Kalam,” instruksi Bu supervisor.

Box donat kuterima. Harapan utamaku ada dua: semoga utang cepat lunas dan aku bisa berhenti bohong. Namun, ada satu harapan lagi yang kuharap benar-benar bisa terkabul saat ini juga.

“Ada yang mau beli rumah?” tanyaku, membuat seisi kantor jadi melongo.

 

 

Tak langsung kubawa donat itu ke rumah. Ia masih menggantung rapi di stang motor. Kuteguk air mineral. Aku sedang berjongkok di depan toko kelontong, mengamati manusia dan kendaraan bergelut dengan debu malam.

Sepertinya aku rehat dulu dari mencari sampingan malam ini. 

25 tahun, ya? Itu berarti tanggung jawab dan beban yang kuterima akan semakin besar.

Lihat selengkapnya