Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #6

Dia Gak Bawa HP

Sotoku sudah terhidang di meja, tapi aku belum berani menyendok. Bukan tidak enak. Aku takut rasanya justru akan hambar ketika sampai di lidah. Antrean pembeli masih panjang, tapi di saat yang sama, seakan hening.

Tante Ratmi duduk di hadapanku, membelakangi teman-teman sosialitanya yang masih menunggu pesanan. Ekspresinya datar. Jujur saja, dengan riasan seperti itu, rasanya aku sedang menghadapi karakter antagonis bertopeng dari opera Cina.

Ini adalah ruang interogasi, tapi dengan aroma soto.

Tante Ratmi tahu dari mana? Seingatku, tak sepatah kata pun terucap dari mulutku menyinggung soal jual rumah. Tidak lewat telepon, tidak saat aku datang mengambil sembako.

Sudah pasti bukan ibu, karena instruksi merahasiakan hal ini datang darinya. Kirana? Tidak mungkin. Justru Kirana yang memberi peringatan untuk berhati-hati.

Cepat atau lambat, aku harus bicara. Namun, aku juga tidak boleh mengajukan pertanyaan yang malah akan memberi konfirmasi.

“Siapa yang ngomong rumahku mau dijual, Tante?”

Tatapan Tante Ratmi tetap sama, detik demi detik, sebelum akhirnya tertuju ke mangkok sotoku. “Tante cuma menebak-nebak.”

Nyaris saja tanganku membanting sendok yang terendam kuah. Diam-diam, kutarik napas panjang. Setahuku, pendidikan Tante Ratmi tidak setinggi itu untuk melakukan permainan psikologi. Alarm palsu.

“Tante tahu sedikitlah soal perjuangan ibumu. Waktu dia pontang-panting cari uang biar kamu bisa lanjut kuliah, biar kamu dan adikmu bisa makan, biar kalian bisa bertahan. Sudah pasti ibumu juga pernah cari pinjaman.”

Aku masih menerka ke mana arah pembicaraan ini.

“Tante paham kalau misalnya sekarang kalian pusing dikejar utang. Tapi kalau bisa, rumah itu jangan dijual.”

Orang yang menghina ibu terang-terangan ada di depanku. Bahkan sekarang aku cukup yakin dia memandangku sebagai anak ingusan berdompet kosong. Sekarang dia mau mendikte apa yang harus keluargaku lakukan?

Di sisi lain, aku tidak bisa memperlakukannya sebagai musuh. Agama tidak membenarkan. Hanya aja, ibu sudah memberi misi penting yang berbenturan dengan janjiku untuk tak lagi berdusta.

Sepertinya ... aku memang tidak punya pilihan.

“Oo ... rumahnya enggak bakal dijual kok, Tante.” Aku tertawa, formalitas.

“Baguslah kalau begitu. Rumahmu punya banyak kenangan. Tante, ibumu, dan saudara yang lain hidup sejak kecil di sana. Tugasmu sekarang, tetap jaga rumah itu.”

Pelayan membawa enam mangkok soto ke meja di belakang Tante Ratmi. Dia pun tersenyum padaku sebelum berbalik dan kembali bergaul dengan teman-temannya yang sama tampil mencolok.

Lihat selengkapnya