Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #7

Dia Gak Ngomong Mau Ke Mana?

Sarung yang kupakai sholat subuh kini beralih fungsi jadi penepis dingin. Mata yang belum sepenuhnya segar kupaksa menghadapi cahaya smartphone. Jariku terus bergerak. Kokok ayam menemaniku mencari nafkah digital.

Sejak matahari masih mengintip di sebelah timur, aku sudah mulai membuat slide presentasi*. Bukan milikku. Seorang mahasiswa akuntansi yang tidak kukenal di media sosial memilihku untuk jadi joki.

Setiap fase kehidupan punya jadwal untuk reset. Ini fase baruku. Kuambil pekerjaan apa saja — selama aku mampu — untuk bisa bertahan. Jadi, ya ... aku memang dipecat, tapi belum sampai titik nadir; dan semoga tidak sampai ke sana.

Sudah sebulan sejak terakhir kali aku menginjakkan kaki di kantor. Ekspresi Pak bos masih terbayang. Dia tidak prihatin. Wajahnya lebih seperti sedang merumuskan diksi yang tepat agar aku tak tersinggung.

Aku juga masih ingat pemandangan kontras di dua area kantor, beberapa menit sebelum aku menerima kabar buruk itu. Si cleaning service sudah tahu nasibnya, sementara tawa obrolan ngalor-ngidul di ruang kerja adalah wujud bersyukur masih lolos dari maut.

Adalah hal lumrah untuk menyingkirkan hal yang dianggap tidak terlalu berguna agar bisa terus melaju. Dunia kerja juga begitu. Dalam hal ini, aku yang hanya admin media sosial merupakan hal tidak terlalu berguna tersebut.

Luar biasa, kan? Aku bekerja di agensi travel, tapi yang pergi jauh malah nasib mujurku.

Butuh dua hari dan 14 jam setelah dipanggil Pak bos untuk menyampaikan berita pemecatanku ke ibu. Pagi langsung senyap. Ibu tidak mengatakannya langsung, tapi dari caranya menghindari kontak mata, aku bisa membaca kekhawatirannya.

“Ibu enggak usah khawatir. Untuk sekarang, aku masih terima uang dari freelance. Sambil aku lamar pekerjaan baru juga di perusahaan lain.”

Wajah berkerut ibu masih tak menoleh padaku. “Beras, air, kebutuhan kuliah adikmu bagaimana?”

“Insya Allah cukup. Aku minta satu aja. Tolong, utangnya jangan ditambah ya, Bu.”

Kala ibu akhirnya menoleh dan menarik napas panjang, kuanggap waktu itu sudah terjalin kesepakatan.

Lalu di sinilah aku. Aku lulus kuliah tiga tahun lalu, dan sekarang harus kembali membuat presentasi materi. Andai bukan karena bahan yang diberikan si pemesan, isi slide ini pasti akan menyesatkan.

Matahari sudah mulai meninggi. Telepon masuk. Si mahasiswi sudah meminta file-nya karena harus tampil tiga jam lagi. Kukirim, dan pundi yang tak seberapa pun masuk ke rekeningku.

Tak kudengar tanda kehadiran ibu di dalam rumah. Kirana juga belum bangun karena baru kuliah siang nanti. Pagi sepi, lagi. Rasa lapar mendorongku ke lantai bawah untuk segera keluar rumah.

“Hoi, Kalam.”

Lelaki kurus berkulit gelap menghentikan langkahku di ruang tamu. Dia duduk santai. Di dekat kakinya tergeletak tas berisi perkakas yang obengnya mengintip keluar.

“Lah, Om Saiful. Dari mana?”

“Habis ngojek.” Om Saiful menyeruput kopinya. Luar biasa. Tak ada kudengar kebisingan di dapur maupun suara motor datang. Sepertinya pamanku satu ini seorang ninja. “Mana lampu yang mau diperbaiki?”

Ah, iya juga. Lampu di dekat kamar mandi sudah tidak menyala tiga hari. Kompetensi kelistrikanku nihil, makanya Om Saiful adalah teknisi gratisan yang tepat.

Lihat selengkapnya