Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #8

Tidak Juga

Ada alasan lain kenapa ibu menunda pertemuan dengan saudaranya. Calon pembeli baru. Magrib sudah berlalu. Aku dan ibu duduk di ruang tamu dengan senyum ramah, menghadapi pria paruh baya bergamis panjang.

“Hmm ... ya, ya, ya,” gumam pria itu seraya mengusap janggutnya sendiri.

“Jadi, bagaimana, Pak?” intonasi ibu masih ramah, tapi penuh harap.

“Kalau soal dana, saya tidak ada masalah.” Sang tamu masih mengusap janggut. Kami seolah sedang berdiskusi dengan kaisar langit dari serial Kera Sakti.

Dia berdiri. Aku dan ibu terus mengikuti gerak-geriknya. Termasuk ketika dia hampir jatuh akibat menginjak ujung gamis panjangnya sendiri. Ibu mencubitku yang hampir tertawa.

“Tapi kalau saya terawang, hawa-hawanya kok enggak enak, ya?”

Kutatap ibu, lalu kembali ke calon pembeli. “Maksudnya, Pak?”

“Sejak tadi, rasanya di ruangan ini ada yang mengawasi saya. Seolah-olah ada entitas tidak terlihat yang penasaran.” Sekali lagi dia mengusap janggut.

Oh, bagus. Paranormal berkedok agamis. Jika sampai dia menyebutkan ciri-ciri bapak sebagai hantu, maka aku yang akan menginjak gamisnya hingga dia benar-benar terjerembap.

Ibu buru-buru menengahi, “Kami bisa jamin, di sini lingkungannya aman dan nyaman.”

Sedetik kemudian, sekumpulan anak muda haus validasi menggeber motor mereka di depan rumah, dan memulai balapan. Lalu disusul anak-anak umur delapan tahunan berjalan kaki mengucap kosakata durjana.

Lima detik hening. Calon pembeli menatapku dan ibu dengan mata skeptis, kemudian kembali duduk. Giliran pria itu memasang senyum percaya diri.

“Begini saja. Saya akan pertimbangkan beli rumah ini. Dengan syarat, saya minta tolong SHM rumah tetangga —kiri, kanan, depan, belakang, difoto semua terus kirim ke Whatsapp saya.”

Sekali lagi, aku dan ibu bertatapan, lalu memandangi si calon pembeli dalam keheningan. Obrolan kami ditutup dengan bahasa kotor anak kecil di luar.

 

 

Kutuang sirup leci sembako pemberian Tante Ratmi ke dalam gelas, lalu kuberi es batu. Kuhidangkan untuk ibu. Musim kemarau membuat malam pun terasa gerah.

“Ibu dapat calon pembeli dari mana, sih? Kok aneh-aneh semua?”

“Dari teman-teman SMA.” Ibu menyesap sirup. “Ibu minta tolong sama mereka buat sebar info ke keluarga atau kerabat yang lagi cari rumah.”

“Coba temannya di kasih tahu, Bu. Kerabat mereka ada yang tukang tipu.”

Luwes saja aku mengatakannya. Di era informasi yang serba cepat, sudah banyak beredar berita konflik agraria akibat SHM ganda.

Lihat selengkapnya