Di tanganku sudah ada jus jeruk, begitu pula di tangan Kirana. Dingin dan manisnya memadamkan amarah kami. Jalanan masih bising. Ada titik teduh agak jauh dari stand, aku dan adikku duduk berdua.
“Aku enggak pernah setuju rumah kita dijual, Bang,” nada bicara Kirana sudah terdengar tenang.
“Aku paham. Tapi kita enggak punya pilihan.”
“Aku cuma mau bantu ibu.” Kirana menyesap jus jeruknya.
Aku melirik, sejenak. “Kuliahmu bagaimana?”
“Aman kok. Aku kerja juga gak tiap hari, menyesuaikan sama jadwal kuliah aja.”
Tidak ada lain yang bisa kuharapkan saat ini kecuali Kirana berkata jujur. Bahkan keluarga pembohong akan sakit ketika dibohongi. Setidaknya aku lega. Makeup adikku di hari-hari sebelumnya sempat membuatku berpikir dia melayani lelaki hidung belang.
“Maaf ya.” Aku menunduk. “Gara-gara aku, kamu harus ikut cari uang.”
Pria berkacamata muncul dari stand. Dari tatapannya, aku tahu dia berharap Kirana bisa kembali bekerja, tapi takut menegur.
Kupegang pundak Kirana, dan kutampakkan ekspresi tenang. “Kamu boleh kerja, tapi kamu harus janji kuliahmu gak akan berantakan.
Tak seperti ibu yang diam, Kirana menatapku dalam-dalam, lalu memberi anggukan diiringi senyum.
***
Berkeliling hingga ke sudut kota, hanya untuk meminta tanda tangan ahli waris, lalu mendokumentasikannya. Melelahkan. Debu beterbangan. Macet membawa hawa panas. Tugas ini adalah neraka.
Saudara ibu yang meninggal ada dua orang. Yang satu punya tiga anak, yang satu punya lima. Dari delapan keturunan ahli waris, yang berhasil kutemui baru empat.
Wajar. Mereka semua Gen Milenial yang mendedikasikan hidup untuk meniti karier di perusahaan ternama atau bank. Aku bisa menemui empat di antaranya juga karena mereka kebetulan baru pulang.
Senyum ramah, obrolan akrab sebagaimana keluarga pada umumnya, acara tanda tangan, lalu aku kembali melesat ke jalanan. Semua lancar. Termasuk kebohonganku soal alasan pengurusan SHM.
Setidaknya sukses, untuk hari ini.
Azan isya baru saja usai bersamaan dengan hariku yang melelahkan. Kulepas helm. Kubiarkan sejuknya angin malam menerpa wajahku.
“Kamu anaknya Fatma?” ucap seorang ibu-ibu, mencegahku menutup pagar. Intonasinya terdengar tak ramah.
“Ada apa, ya?” aku bertanya sopan.