Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #10

Saya Juga Mau Pergi

Musik romantis mengalun mengisi malam tidak terlalu dingin. Kafe penuh manusia. Sesekali tawa menggelegar bersama aroma kopi dan camilan yang ikut merambat di udara.

Aku berhasil masuk tanpa membayar karena panitia reuni di pintu masuk hanya meminta nama dan kelas. Curang? Memang. Makanya aku tidak boleh lama di sini.

Vincent benar. Reuni ini adalah ajang pamer kesuksesan. Terbukti dari obrolan yang kudengar saat melintas di antara para peserta dengan seragam instansi masing-masing. Ada juga pengusaha muda yang entah memulai sendiri atau bawa nama orang tua.

“Kalam!”

Tiga orang teman kelasku menghampiri. Wajah mereka tak banyak berubah meski berat badan mereka bertambah dan salah satunya tumbuh kumis. Basa-basi terjadi. Aku menjawab apa adanya soal kondisiku tanpa mengharap kasihan.

Di sinilah misi berjalan. Ketika kubahas soal jual rumah, dua temanku mulai menjauh berdalih menyapa teman lain. Satu yang bertahan. Ivan namanya, hadir dengan pakaian kasual sepertiku.

“Menarik.” Ivan mengangguk. “Kebetulan, aku juga lagi cari lokasi tambahan untuk cabang usahaku. Kalau memang lokasinya sestrategis itu, bisa kita bicarakan.”

Untuk pertama kalinya, aku senang mendengar kata reuni. Secercah harapan. Rezeki memang datang dari arah tak disangka-sangka, bahkan bisa dari saran teman kuliah durjana tukang gambar karakter binatang telanjang.

“Tapi untuk sekarang, aku baru punya 400 juta,” sambung Ivan.

“Gak masalah.” Kujabat tangan pengusaha muda itu. “Kamu sudah lihat fotonya, tapi datang aja ke rumahku nanti, biar kamu putuskan sendiri.”

Aku bukan tipe yang iri dengan kesuksesan orang lain. Mereka sukses, itu bagus. Ibu juga tidak pernah memaksaku untuk mengikuti langkah mereka yang PNS atau kerja di BUMN. Salah satunya bahkan mungkin jadi jalan keluar masalah kami.

Sepanjang yang kumengerti, sales adalah tukang bohong. Untungnya, itu kelebihanku.

Ivan pamit menyingkir. Kuanggap misiku malam ini selesai, dan saatnya pergi dari acara reuni yang sama sekali aku tak berkontribusi.

Smartphone-ku berdering. Satu nama familier, cukup lama tak kudengar, muncul di layar.

“Halo, Bude Anjar,” sama seperti pada generasi tua keluarga besar lainnya, nadaku sopan.

“Saya mau datang ke rumahmu besok,” balasnya dengan nada dingin, tanpa basa-basi.

***

 

Kejadiannya ketika Kirana SMA. Waktu itu, Kirana tinggal bersama keluarga Bude Anjar di luar kota. Alasannya cukup menyentuh. Bude Anjar adalah kakak bapakku, dan dia ingin membantu anak-anak bapak.

Lihat selengkapnya