Setelah bergulat dengan terik matahari, ditampar asap knalpot menyesakkan, dan satu cangkir teh yang harus kuminum tiap berkunjung ke sepupu-sepupuku, sekarang saatnya pulang. Sore baru tiba. Lebih banyak waktu untuk meluruskan punggung.
Tahap pertama beres. Dengan kebohongan yang sama, aku berhasil mengumpulkan tanda tangan para ahli waris. Akan kudiskusikan tahap selanjutnya bersama ibu nanti.
Langkahku terhenti di ambang pintu. Ibu sedang duduk bersila bersama dua perempuan berkemeja putih dengan wajah familier. Orang bank. Tempo hari, aku membohongi dua perempuan itu, berkata ibu tidak ada di rumah.
Kini ketiganya menatapku. Seketika hening. Ada lembaran kertas tergeletak di dekat kaki mereka. Apa ini? Penagihan?
“Kalam, duduk sini dulu, nak.”
Tidak biasanya nada ibu selembut itu. Suara ibu memang jarang tinggi, tapi kali ini dia sengaja bertutur seperti anggota keluarga ideal tanpa tekanan.
Aku ikut duduk. Justru dua perempuan dari bank yang malah menghindari kontak mata denganku. Sepertinya benar, aku memang jelek.
“Difoto pegang KTP dulu ya, Kak,” ucap salah satu perempuan bank. “Kakak sebagai penjaminnya Bu Fatma.”
Kuarahkan pandanganku ke ibu, dan dia hanya tersenyum sambil memintaku mengeluarkan KTP, masih dengan intonasi lembut yang sama.
Sial. Sial. Sial. Aku sangat ingin memberontak, tapi wajah ibu yang penuh harap dan ekspresi dua orang bank yang canggung malah mencegahku. Lebih buruk lagi, suasana ini malah menuntun tanganku bergerak mengeluarkan KTP dari dompet.
Prosedur berjalan lancar. Ibu menerima segepok uang yang membuatnya tersenyum puas. Sementara aku ... aku cukup tahu bahwa ekspresiku masam.
Dua perempuan bank itu pergi, menyisakan aku dan ibu di ruang tamu. Aku tertunduk. Tanpa mengangkat kepalaku, aku berpindah ke kursi. Lima detik kemudian, ibu ikut duduk di sebelahku.
“Kamu kenapa?” kini nada bicaranya sudah kembali normal.
Kutarik napas panjang, agar ibu tahu betapa marah aku sekarang. “Ibu udah janji gak akan tambah utang lagi. Terus kenapa ambil pinjaman baru?”
“Kita gak punya pilihan, Kalam!” jawab ibu tidak bernada tinggi, tapi penuh tekanan.
“Ibu menuntut macam-macam ke aku. Harus cepat mandiri, harus cepat nikah .... Gimana caranya itu semua bisa kesampaian kalau bebannya tambah banyak?” Di sini suaraku mulai seperti bocah ingin menangis karena kalah berkelahi.
“Ini strategi! Kamu mana paham?”
Aku menengok. “Kalau begitu bikin aku paham!”
“Ibu ambil pinjaman untuk tutupi utang-utang yang kecil. Nanti setelah rumah laku, sisa uang beli rumah bakal dipakai bayar utang besar, kontan!”