Smartphone-ku panas. Entah karena baterainya yang protes kerja berlebihan, atau karena layarnya menjadi konduktor cahaya siang. Jalanan masih bising. Yang bisa menenangkanku adalah manisnya jus jeruk tempat Kirana bekerja.
Betapa naifnya aku. Bernapas lega mengira neraka ini telah berakhir, padahal ternyata ada instruksi baru dari kantor lurah untuk memotret makam ahli waris yang sudah meninggal.
Sama seperti sebelumnya, aku yang dipercaya ibu untuk bepergian jauh, sementara dia akan bergerak mencari pembeli rumah. Aku tidak keberatan. Hanya saja efek perubahan iklim membuatku cepat mengeluh.
Birokrasi sialan, memberi info setengah-setengah. Lempar sana, lempar sini, seakan warga yang masuk ke kantor mereka tidak punya waktu berharga. Sekarang galeri ponselku penuh foto kuburan seolah aku penjarah makam. Kakek, nenek, satu om, dan satu tante.
“Abang, habis ini shift-ku selesai,” ucap Kirana dari tempatnya menyusun gelas plastik. “Tolong antar ke kampus, ya. Sebelum hujan.”
Aku mengernyit. “Hujan?”
Pandanganku langsung tertuju ke langit. Menarik. Aku bisa melihat tumpukan awan mulai menghitam menutupi matahari, seketika teduh dan membawa angin sejuk.
Jus jeruk lanjut kusesap. Sudah bertahun-tahun kalender musim jadi kacau. Setahuku, bulan ini belum waktunya masuk musim hujan. Tak apalah.
Tuhan memang Maha Mendengar bahkan untuk keluhan kecil, tapi tumben Dia langsung memberiku jawaban. Atau mungkin ... aku terlalu percaya diri membaca tanda.
***
“Kalam!” teriak ibu disertai gedorannya pada pintu kamar membangunkanku.
Tak ada waktu mengumpulkan nyawa. Aku berlari keluar kamar sementara petir terus menyambar di antara derasnya hujan, sesekali membuat jantungku hampir copot.
Namun, ibu tidak ada. Yang menyambutku adalah air hujan menyerbu masuk dari lubang di atap, membasahi lantai kayu. Ini bukan lagi kebocoran. Ini bencana!
Ibu bergerak terburu-buru di tangga, datang membawa sebuah baskom. “Tampung, cepat!”
Segera kuambil baskom itu, lalu kuletakkan di area datangnya air. Ibu turun lagi. Beberapa detik kemudian, dia datang memberiku baskom lainnya untuk mengatasi kebocoran kedua di dekat dinding.
Tiap detik sangat berharga, seolah kami adalah kru kapal selam, dan dinding kapal kami baru saja berlubang diserang monster bawah laut.
“Coba cek, ada yang bocor lagi atau enggak?” ibu memberi instruksi seraya memeriksa langit-langit tempatnya berdiri.