Di hari ibu bersitegang dengan Tante Ratmi enam tahun silam, ibu membawa kesedihannya hingga malam berselang. Dia tetap beraktivitas. Masak, shalat, bicara dengan tetangga seolah tak ada apa-apa.
Kemudian, ketika semua sudah hening, ibu duduk sendirian di ruang tamu, diam-diam meluapkan kesedihannya lewat air mata. Aku tidak tahan. Namun, aku juga tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk menenangkan ibu.
Sementara Kirana yang masih SMP hanya bisa ikut mengamati karena tidak mengerti apa yang telah terjadi. Kami berdua melantai. Sesaat, aku dan adikku bertukar pandang, menunggu momen tepat untuk bicara pada ibu.
Tiba-tiba saja, ibu berlutut di lantai, lalu meletakkan kedua tangannya di pundak kami. Sempat aku merinding. Kukira ibu sudah hilang kewarasan, karena matanya masih berair, tapi tatapannya kejam.
“Ingat ini. Jangan percaya sama saudara-saudara Ibu. Jangan percaya sama anak-anak mereka.”
Aku yakin waktu itu memberi tatapan datar pada ibu karena masih memproses ucapannya. Bukan. Lebih tepatnya, mempertanyakan apakah aku bisa memenuhi permintaan ibu.
“Mereka cuma bisa menghina, cuma bisa menginjak-injak,” ibu melanjutkan, kali ini raut kesedihan dan air matanya kembali muncul.
Bagi adikku yang masih belia, pemandangan di depannya sudah cukup untuk membuatnya turut menitikkan air mata dan menerima pelukan ibu. Aku? Aku hanya bisa diam, bimbang, seolah pil pahit sedang tersangkut di tenggorokan.
Butuh waktu bertahun-tahun sebelum konflik mereda dan ibu kembali bicara dengan Tante Ratmi. Kedengarannya melegakan. Sayangnya, proses menuju resolusi singkat itu adalah neraka yang harus kutempuh.
Lalu sekarang, Tante Ratmi mengulang adegan yang sama. Masih pagi, tapi aura kebencian sudah memenuhi ruang tamu. Bedanya, mereka berdiri. Keduanya saling berhadapan seperti dua manusia siap mati.
Apakah kami yang tidak pernah belajar? Atau ini semua adalah siklus yang akan terus berulang meski kami berusaha sebaik mungkin menjadi keluarga harmonis?
“Kurang ajar kamu, Fatma!” Telunjuk tanteku terus melayang di depan hidung ibu. “Kemarin bilangnya minta tanda tangan ahli waris untuk urus SHM supaya tidak kena gusur. Ternyata malah untuk jual rumah ini!”
Ini konfrontasi langsung. Berbeda dengan kejadian di warung soto tempo hari, aku cukup yakin sekarang Tante Ratmi tidak sedang menebak-nebak. Kami sudah tidak bisa mengelak. Masalahnya ... dia tahu dari siapa?
“Tante Ratmi, tolong tenang dulu,” ucapku berusaha sediplomatis mungkin.
“Diam kamu!” Mata Tante Ratmi melotot padaku. “Ibu kamu sudah bikin pelanggaran berat!”
“Pelanggaran berat apa?” tukas ibu. Kali ini, ibu berbeda. Lebih berani pada Tante Ratmi dan memberi tatapan menantang. “Apa hak Mbak sampai bisa bilang begitu?”
“Kamu sudah bohongi aku. Kamu datang bareng anakmu, minta tanda tanganku untuk sesuatu yang tidak pernah aku setujui.”
“Gak usah bawa-bawa anakku, Mbak. Ini urusan kita. Lagipula, sejak kapan aku butuh persetujuan Mbak untuk bikin sesuatu?”