Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #14

Sempat Bilang, tapi Tidak Tahu Mau Datang Jam Berapa

Kotak martabak telur di dekat komputer masih menebar semerbak sisa santap semalam. Ayam sudah berkokok. Udara pagi menerobos masuk dari jendela ruang tamu, mengusir pengap dalam kamar ini.

Vincent masih terlelap. Dia terlihat nyaman di atas ranjang, berselimut dan memilih menghadap tembok untuk menghindari cahaya. Sementara aku yang di lantai sudah berkutat dengan cahaya smartphone-ku, bergantung pada wifi sang tuan rumah sejak waktu shalat subuh usai.

Sudah empat hari aku menginap di sini, dan kuperhatikan kebiasaan Vincent sama setiap malam. Bekerja, ngopi, menonton podcast. Bahkan jika aku tak sengaja terbangun dini hari, kudapati Vincent masih tertawa di depan monitor.

Jariku terus bergerak di layar smartphone. Saatnya bekerja. Bolak-balik dari satu aplikasi edit ke media sosial untuk menambah pundi. Lebih tepatnya, bertahan hidup dan tahu diri karena aku cuma menumpang di rumah Vincent.

Aku sudah meminta Kirana untuk tidak menghubungiku sementara waktu. Sebagai gantinya, kutransfer sedikit uang agar dia bisa bolak-balik kampus dan pulang. Jelas menguras saldoku. Namun, kurasa langkah ini jauh lebih baik.

Yang kubutuhkan hanya sedikit ketenangan, dan aku mendapatkannya. Di sini, tidak ada ibu yang akan meminta uangku untuk masalah yang dia buat sendiri.

“Minum dulu.” Mamanya Vincent masuk ke kamar, tersenyum meletakkan secangkir teh di meja. Aku berterima kasih, bernada sopan.

Sedetik kemudian, senyum mama Vincent hilang karena melihat anaknya masih berbentuk kepompong di atas ranjang. Seketika celotehnya menggema. Durasinya cukup untuk membuat Vincent bangun dan menggerutu.

Perhatianku tetap tertuju ke layar smartphone sambil menyembunyikan tawa kecil. Pagi yang brutal. Sebelum beranjak ke dapur, mama Vincent minta maaf padaku karena Vincent membiarkanku sendirian tanpa interaksi manusia.

“Tidur cuma berapa jam, bagaimana mau konsentrasi buat kerja?” Vincent menguap, lalu mengusap pinggir matanya yang menghitam.

“Kamu sakit?” tanyaku.

“Enggak.” Vincent memegang kepalanya. “Cuma pusing sedikit.”

Lantas Vincent kembali menyalakan PC*-nya, langsung berhadapan dengan orderan gambar aneh-aneh. Dua lelaki menyedihkan yang tenggelam dalam pekerjaan digital masing-masing.

“Jadi, kapan kamu mau pulang?” seperti biasa, Vincent bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

“Aku diusir, nih?” aku balik bertanya dengan bercanda.

“Ayolah, Kalam. Kamu tidak bisa terus-terusan benci ke ibumu.”

Kuletakkan ponselku di lantai. “Aku gak benci ibuku, Vincent. Aku cuma ... butuh menjauh sebentar.”

 “Sebentar itu berapa lama?”

“Ya ... pokoknya sebentar.”

Vincent menghela napas, lalu memutar kursinya untuk menatapku. “Apa yang terjadi di rumahmu bukan urusanku, sih. Aku juga tidak tahu detail masalahnya. Tapi kalau kamu tidak segera cari cara buat berbaikan dengan ibumu, semuanya bakal makin runyam. Percaya deh.”

Sebenarnya aku ingin menceritakan ke Vincent penyebabku kabur dari rumah. Aku harap dia bisa mengerti. Namun, sudahlah. Menumpang tidur di sini saja sudah merepotkan, mana mungkin aku membagikan bebanku juga.

Lihat selengkapnya