Berbeda dengan bagian dalam swalayan, taman seberang jalan hanya ditiup semilir angin. Pohon meneduhkan. Tak ada orang lain, tapi sesekali peluit tukang parkir terdengar ketika aku dan Laras menyendok es dawet yang kami beli dari luar taman.
Ingin kusebut suasana ini seperti sedia kala, tapi kami sekarang tak lain hanya dua orang tanpa hubungan yang duduk bersebelahan di bangku besi panjang. Bahkan kami tidak ingat siapa yang duluan mengajak ke sini.
“Aku sekarang kerja jadi admin marketing perumahan,” kata Laras, masih dengan senyum simpul di wajah ovalnya. Tak ada nada sombong. Tak ada nada merendahkan.
Ucapan Laras serasi dengan penampilannya. Kasual, tapi rapi. Dia memang sudah cantik dari dulu dengan jilbab biru dan kacamata tebal itu. Namun, melihatnya sekarang, aku tahu dia punya uang untuk merawat diri.
“Syukurlah,” balasku dengan senyum ramah.
“Kamu bagaimana?”
Sekali lagi. Aku hanya pakai kaos polo berlapis jaket, celana training hitam, sandal kodok. “Aku sekarang jadi nasabah prioritas bank.”
Sengaja aku diam setelah mengucapkan itu, lalu melirik nakal ke Laras. Hasilnya sesuai harapan. Dia cekikikan seraya meninju pelan bahuku. Setidaknya suasana cair meski tak semanis dawet di tangan kami.
Kemudian Laras diam, kembali mengarahkan mata ke es dawetnya sambil terus mengaduk. “Aku minta maaf karena memutuskan kamu.”
Sedetik tawa keluar dari mulutku. “Minta maaf buat apa? Malah tindakanmu itu sudah tepat. Kebohongan kecil itu pada akhirnya bikin konsekuensi yang besar.”
Entah kalimatku atau nada bicaraku yang membuat Laras kembali menoleh. Kali ini dia menunjukkan raut wajah seolah tahu ada yang salah. Aku membuang muka. Akan tetapi wajah Laras enggan berganti arah.
“Kalam, kamu mau cerita?” Nadanya sangat lembut, membuatku bingung apakah sedang terjebak dalam ilusi nostalgia atau rasa aman palsu yang menungguku runtuh.
Giliranku yang terus mengaduk es dawet. Ketika kuarahkan mataku ke Laras, seluruh wajahku memaksa untuk menghindar. Rasanya tidak pantas. Aku sudah bukan siapa-siapanya lagi untuk membagi beban.
Lantas, tangan lentik Laras menggenggam tulang hastaku. Di sinilah aku kalah. Di sinilah aku membeberkan semua yang kuhadapi. Bodohnya, aku masih berusaha tangguh dengan menahan air mataku keluar.
Setelahnya, taman jadi hening. Bayangan pohon menghilang akibat cahaya matahari tiba-tiba tertutup mendung.
“Aku ... gak tahu bisa bantu apa,” ucap Laras memecah keheningan.
“Tidak apa-apa.” Aku tersenyum simpul. “Kamu mau mendengar masalahku aja udah membantu banget.”
Faktanya memang demikian. Apa yang tak enak kuceritakan ke Vincent malah sangat leluasa keluar dari mulutku ketika bersama Laras. Rasanya lega. Namun, kupastikan batasan itu tetap ada, tanpa ada harapan lebih.