Padahal ini jam berangkat kerja, tapi matahari enggan menyapaku dan bersembunyi di balik awan. Jalanan basah. Begitu juga teras rumah dan penyangga atap yang mulai lapuk. Suara tetangga juga tak muncul, membuatku seolah berdiri di depan rumah hantu.
Setelah kondisi Vincent mulai terkendali semalam, aku tak langsung menghilang. Untung aku hadir. Beberapa kali papa Vincent meminta tolong padaku bolak-balik rumah dan membeli beberapa keperluan untuk rawat inap.
Tentu aku tak keberatan. Hitung-hitung balas budi karena diizinkan menginap dan makan beberapa hari. Ransel dan pakaianku sekalian kuambil ketika misi berjalan. Barulah setelah semuanya beres, aku mohon pamit.
Dan sekarang aku berdiri lagi di sini, di depan rumahku sendiri. Kupegang erat tali ranselku dan menelan pahitnya pil kekalahan. Pagar masih terkunci. Pintu sudah terbuka sedikit, tapi tak menampakkan manusia.
Aku pernah melihat meme tentang anak kecil yang kabur dari rumah tapi malah pulang lagi seminggu kemudian. Tak disangka, sekarang aku yang melakukannya. Lebih payah lagi. Durasi kaburku bahkan tak cukup lima hari.
Kuhela napas panjang. Mungkin ini ide buruk. Sebaiknya aku kembali berkendara, menunggu waktu yang benar-benar tepat untuk kembali ke sini. Bisa jadi lusa, bisa jadi bulan depan, bisa jadi nanti, kalau musim sudah menetapkan pendiriannya apakah mau mengakhiri kemarau.
Suara derit pintu lantas menghentikanku kembali ke sepeda motor. Aku menoleh. Ibu sudah berdiri di teras, merengut menatapku, lalu berjalan pelan membuka pagar.
“Masuk.” Hanya satu kata, tanpa senyum, lalu ibu kembali ke dalam rumah.
Kuusir ragu sejenak, kemudian kupenuhi undangan dingin itu. Kacau. Genangan air di lantai dekat meja makan, bahkan kali ini lantai dekat mesin jahit kesayangan ibu juga mengalami hal serupa.
Ulasanku belum selesai. Bahkan anak tangga yang kunaiki baru setengahnya, tapi bisa kulihat dua buah ember sudah berjejer di depan kamar Kirana.
Padahal rumahku, rumah Vincent, dan rumah sakit masih satu kota, tapi cuacanya seakan pilih kasih.
Kubuka pintu kamarku. Tempat tidurku rapi dan sepreinya berbeda dari sejak kutinggal. Kucing hitamku tidur nyenyak di atasnya, lalu terus mengeong ketika melihatku berdiri di depan lemari.
Ransel bertemu lantai kayu. Tubuhku kembali merasakan ranjang yang tak asing. Kucingku menempel, menunjukkan kasih sayang. Notifikasi berbunyi. Bayaranku sudah masuk.
“Udah pulang, Bang?” Kirana hanya memunculkan kepala dan lehernya di pintu.
“Belum.” Aku tersenyum. “Masih di planet lain.”
Dari kaca jendela kamar depan, aku bisa melihat ibu mengunci pagar lalu berjalan ke arah di mana jalan raya berada. Ke pasar, perkiraanku. Atau mungkin mencari tetangga untuk menyebar kabar bahwa anak ibu yang tidak berguna telah kembali.