Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #17

Kamu kok Bisa Tidak Tahu Dia ke Mana?

Lidahku mulai kehilangan jejak rasa bumbu bakso. Tanganku berhenti menyendok kuah. Tutur Bude Anjar di telepon seolah menghilangkan suara kendaraan yang lalu lalang di depan warung.

Kutanyakan maksudnya. Jawaban yang kudapat hanya pengulangan penawaran. Yang paling menggangguku adalah Bude Anjar terdengar sangat percaya diri seolah aku akan langsung berkata iya.

Sengaja tak kubocorkan tentang si juragan kontrakan yang telah sepakat membeli rumah kami. Kupingku terus siaga. Mulutku masih tak terbuka. Aku masih ingin tahu pembicaraan ini arahnya ke mana, dan apa motif Bude Anjar.

Apakah ini adalah upaya untuk merendahkan keluargaku lebih jauh lagi?

“Waktu saya dengar kalau ibumu bertengkar dengan Ratmi perkara rumah, saya jadi kasihan.” Nada Bude Anjar terdengar penuh empati. “Seolah-olah mereka sudah membuang hubungan persaudaraan cuma karena masalah sepele.”

Apa-apaan perempuan sepuh ini? Jual rumah jelas bukan masalah sepele, makanya ibu sampai bertengkar. Namun, tak apa. Setidaknya ini mengonfirmasi kalau Bude Anjar dan Tante Ratmi tak membentuk aliansi.

“Tapi yang paling bikin saya sakit hati itu justru waktu dengar rumahmu mau dijual. Pasti kalian melakukannya karena betul-betul butuh uang. Harusnya saya sadar lebih awal kalau keluargamu lagi susah, Kalam.”

Oke ....

“Makanya saya putuskan, saya saja yang beli rumah itu. Hitung-hitung, membantu keluarga almarhum adikku.”

Sulit dipercaya. Bude Anjar menggunakan hubungan keluarga sebagai kartu andalannya. Sekilas terdengar masuk akal. Namun, di saat yang sama, terasa salah. Kucoba menggali segala kemungkinan, tapi tetap tak ketemu.

“Rumah kamu belum terjual, kan?” Bude Anjar bertanya.

“Belum, Bude,” jawabku tenang. “Aku, ibu, dan Kirana masih tinggal di sana.”

Sepengetahuanku, ibu dan si juragan kontrakan baru sepakat harga 300 juta. Belum ada pelunasan. Syukurlah, kali ini aku tidak berbohong.

“Oh, baguslah kalau begitu. Rumahmu dari dulu sering jadi tempat singgah keluarga. Daripada dijual ke orang tidak dikenal, mending kasih ke saya.”

“Nanti aku bicarakan sama ibu, Bude.” Tanganku mulai kembali mengoperasikan garpu. “Memangnya mau dibeli berapa?”

“Kalau dilihat dari kondisi rumahmu, kayaknya 125 juta sudah cukup.”

Bakso pun tertahan di depan mulutku yang menganga.

***

 

Terlalu lama kuhabiskan waktu di kamar untuk bekerja secara online. Kukucek mataku. Remaja badung di luar rumah mengisi pasca petang dengan geber sepeda motor murah dan teriakan bahasa kotor.

Pintu kamar Kirana tak tertutup, dan kudapati dia sedang tertawa streaming drama Korea. Kubiarkan. Sementara kamar ibu juga kosong, hanya ada sajadah terlipat di lantai.

Lihat selengkapnya