Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #18

Soalnya Dia Tidak Bilang

Kududuki motorku seraya bernaung di bawah langit mendung. Area kampus bising. Seorang mahasiswi minta maaf, mengira aku ojek online pesanannya karena aku parkir bersama lima orang pengemudi berjaket hijau.

Giliran Kirana muncul. Masih dengan pakaian rapinya, adikku yang baru selesai kuliah langsung naik ke boncenganku, lalu minta segera pulang karena cacing di perutnya mulai berdansa. Tanpa menimpali, kupacu kendaraanku.

Di hadapanku, hanya ada jalanan beraspal dan kendaraan saling menyalip. Hanya itu. Kubiarkan tanganku melakukan semuanya secara otomatis, dari menarik gas hingga berbelok. Mataku tetap melihat jalanan, tapi pikiranku ada di garis waktu lain.

Ibu membohongiku, lagi. Aku bisa mengerti, ibu menyebut nominal utang lebih kecil dari aslinya karena tidak ingin membebaniku yang sudah rela menyisihkan hampir setengah gaji untuk bayar utang.

Namun ... entahlah. Setitik rasa kecewa masih bergerilya dalam diriku. Bukan karena bohongnya. Hanya saja nominal yang tertulis dan jumlah terbayar dalam buku catatan itu membuat kontribusiku seakan makin tidak berarti.

“ABANG!” pekik Kirana membuat tanganku cepat membelokkan setir motor.

Ada mobil datang dari arah berlawanan, klaksonnya meraung. Bukan. Aku yang ada di jalurnya dan sedikit lagi menabrak. Kutarik rem cakram. Ban motorku tergelincir.

Detik demi detik berlalu. Aku dan Kirana sudah ada di tepi jalan, masih bernapas. Motorku juga masih utuh. Kendaraan lain lanjut bergerak, dan manusia sekitar hanya menyimak.

Rupanya pikiranku terlalu lama melayang sampai tak sadar bahwa kami memasuki jalur dua arah. Aku masih diam. Tak butuh lama bagi Kirana untuk menangkap kegelisahanku. Kegelisahan yang nyaris mengantar kami ke alam baka.

“Jalannya pelan-pelan aja, Bang,” pinta Kirana.

Sebenarnya, ingin kutolak permintaan itu. Rasanya aku lebih mau berdiam sejenak di tepi jalan. Sayang, langit makin mendung. Aku tak punya jas hujan, dan adikku sedang kelaparan. Maka kutarik napas, lalu lanjut kutarik gas.

“Kayaknya ibu udah benci sama aku,” kataku, kali ini lebih berkonsentrasi pada jalanan. “Mungkin gara-gara aku gak bela ibu waktu debat sama Tante Ratmi dan malah kabur dari rumah.”

“Ibu cuma lagi capek aja, Bang,” balas Kirana, sedikit mengeraskan suaranya.

“Aku tahu bedanya orang lagi malas ngomong sama gak mau diajak ngomong, Kirana.”

“Kayaknya Abang lupa satu hal penting, makanya ibu kasih silent treatment kayak gitu.”

“Hal penting?”

“Coba deh, Abang ingat-ingat. Sejak pulang ke rumah, Abang udah ngomong apa aja ke ibu?”

***

 

Entah sudah berapa lama kupandangi langit-langit kamarku. Bantal terasa keras. Sepuluh jemari tanganku diam berkumpul di atas perut. Kesunyian malam masih belum mampu membuat mataku terpejam.

Lihat selengkapnya