Gadis penjaga toko kelontong sedang kewalahan melayani lima pembeli sekaligus. Kuputuskan menunggu. Toh di malam yang agak dingin ini, tekstur roti nanas di tanganku tidak akan berubah.
Toko kelontong ini hanya berjarak sekitar 80 meter dari rumahku. Hampir setiap hari, bahkan sebelum jadi korban efisiensi, aku ke sini untuk membeli camilan. Masalahnya satu. Letaknya di jalan raya terbuka.
Ketika belanja siang, aku akan terkena sengatan matahari dan berpapasan dengan tetangga banyak tanya dalam perjalanan yang harusnya singkat itu. Belanja malam, jalan raya lengang, tapi berarti ancaman juga sedang mengintai.
Setelah kupindai QRIS untuk membayar, aku pun berjalan di bawah malam. Dari terangnya toko ke minimnya cahaya jalan raya. Sunyi. Untuk ukuran wilayah urban, agak aneh melihat warga sekitar sudah menutup pintu dan jendela.
Langkahku santai. Beberapa bocah datang dari arah berlawanan, meneriakkan kata-kata kotor pada ‘musuh’ mereka yang berdiri cukup jauh. Betapa kacaunya sistem pendidikan sehingga mereka bisa leluasa berucap seperti itu.
Sudah 25 tahun aku hidup di lingkungan ini, dan sejarah perang kelompoknya masih terukir jelas dalam ingatan. Dulu, pelakunya para pemuda. Sekarang, para pemuda itu menikah, punya anak, dan mewariskan tradisi tolol ini ke generasi selanjutnya.
Sungguh 80 meter yang panjang. Mataku tetap melirik sekitar, mengawasi jangan sampai bocah-bocah itu membawa senjata tajam. Ini serius. Pihak berwajib juga kewalahan saking banyaknya kasus kenakalan di bawah umur.
Lalu datanglah suara yang kukhawatirkan. Geber motor. Sekumpulan remaja haus validasi. Bukan. Mereka sedang memulai provokasi, menggunakan knalpot brong di motor matic murah mereka untuk memancing lawan keluar sarang.
Aku masih bisa menjewer sekelompok bocah. Tapi remaja? Energi mereka masih meluap-luap karena tidak perlu memikirkan cicilan. Yang penting mereka terlihat keren dan perkasa, meski artinya harus menyakiti orang lain ... dan mereka sadar itu.
Sedikit lagi aku sampai di rumah. Aku tersentak. Dari kegelapan, sejumlah siluet manusia muncul berjalan ke arahku. Satu lampu jalan menyorot wajah mereka, ternyata remaja-remaja yang juga tidak kukenal.
“MAJU LO, BANGSAT!” teriak salah satu dari mereka.
Bunyi seng dihantam batu menggema. Tawuran dimulai. Kupercepat langkahku, tak mau terjebak dalam jalur bidik. Amit-amit, aku malah dikira pihak salah satu dari mereka dan jadi sasaran serang.
Kukunci pagar. Kututup pintu. Belanjaan kutaruh di atas meja makan, lalu kuperiksa tiap jendela jangan sampai ada yang terbuka.
“Kirana!”
“Aku di sini, Bang.” Kirana muncul dari arah kamar mandi.
“Ibu mana?” tanyaku.
Adikku mengangkat bahu. Tak ada tanda kehadiran orang yang kucari di dalam rumah. Gawat. Ibu pasti sedang bergosip di teras tetangga.