Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #20

Tidak Tertarik

Di depan si juragan kontrakan, ibu tetap memasang senyum ramah. Sesekali dia mengangguk ketika Pak Haris membahas hal tidak relevan dengan nada serius. Obrolannya mengalir. Bincang mereka baru usai ketika Pak Haris ingat mau menagih penyewa.

Ketika masuk ke dalam rumah, pertunjukan berakhir. Ibu melepas topeng ramahnya, dan mulai bicara dengan wajah sinis. “Gila aja kita disuruh tinggal lebih lama.”

Aku bertolak pinggang. “Jadi, Ibu maunya bagaimana? Gak mungkin dibatalkan, kan? Pak Haris udah bayar DP.”

“Siapa juga yang mau batalkan?”

Ibu duduk di ruang makan. Hampir satu menit ibu di sana, membiarkan keheningan pagi berkuasa. Sedangkan dia terus bersikap seperti ahli strategi perang.

“Oh, gini aja, Kalam. Nanti, kalau Pak Haris tanya, bilang aja kayak gini ....”

Aku mendekat. Aku mengernyit. Aku terheran. “Ibu mau kondangan di Jepang?”

“Kita harus cepat dapat uangnya dari Pak Haris, biar bisa langsung dipakai beli rumah baru. Kalau gak bilang kayak gitu, Pak Haris bakal terus-terusan ulur waktu pelunasan.”

“Bu, kita emang udah biasa bohongi orang. Tapi cari yang masuk akal dikit kek. Memangnya Ibu mau ke kondangannya Naruto?”

“Memangnya alasan Ibu gak masuk akal?” ibu mendebat. “Kamu lupa, ya? Sepupu kamu ada yang kerja di Jepang. Kita bilang aja kalau dia yang mau nikah di sana.”

Dua hal. Pertama, ibu benar. Bukan Tante Ratmi atau Om Saiful. Ibu punya satu saudara lagi yang masih hidup, dan saudaranya itu punya anak yang sudah empat tahun kerja di negeri sakura.

Kedua, Pak Haris bukan musuh. Tidak sepantasnya dia mendapatkan kebohongan terencana ini hanya demi membuatnya membayar lebih cepat. Ditambah, skema ibu hanya makin menjauhkanku dari sikap jujur!

“Soal itu nanti ajalah, Bu,” kataku sambil menggaruk kepala. “Kita bereskan satu hal yang lebih penting dulu.”

“Kamu ini bagaimana? Memangnya apa yang lebih penting dari mendapatkan uang itu?”

“Ya lebih penting cari rumah yang mau dibeli,” jawabku santai.

***

 

Seorang anak laki-laki 25 tahun dan ibunya berboncengan di bawah langit mendung. Perjalanan lancar. Kecuali fakta bahwa kami harus dikentuti dengan asap hitam oleh truk proyek ... dua kali.

Sebelum berangkat, sempat aku berdebat dengan Kirana yang baru bangun dan berkata mau diantar kampus. Kami diburu waktu. Maka segera kubendung celoteh Kirana dengan selembar uang 50 ribu untuk berangkat sendiri.

Lokasi pertama yang kami datangi adalah sebuah perumahan di pinggir kota, dekat waduk. Suasananya asri. Bangunan rumahnya berjejer rapi dan terlihat cukup luas. Sayang, warnanya monoton kuning semua.

Jalanannya belum dipasangi paving block, sehingga sandal kodokku langsung bertemu tanah benyek. Tak masalah ... mungkin. Sepeda motorku juga masih berdiri gagah di struktur tanah yang sama.

Lihat selengkapnya