Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #21

Kenapa Jawabnya Begitu?

Gapura biru safir dengan nama perumahan menyambut kedatangan kami. Jauh dari pusat kota. Jalanan di dalamnya menggunakan paving block yang tidak rapi, membuat kami seolah berkendara di pegunungan.

Hari yang baru. Sengaja aku dan ibu hadir ketika hujan deras baru saja berhenti, ingin tahu apakah tempat yang akan kami datangi tetap menunjukkan tanah dan jalan setapaknya, atau malah ikut tergenang.

Di sebelah kiri masih penuh kebun. Sebelah kanan, rumah jarang-jarang teras lapang. Unik juga. Setiap meter yang kami lalui, ibu terus berujar tentang pemandangan asri khas pedesaan —karena memang ini sudah termasuk desa.

Lalu tampaklah zona yang dijanjikan itu. Rumah tipe 36/72, berjejer rapi dengan warna berbeda-beda tiap unitnya. Luas terbuka. Tak ada bangunan yang seenaknya lebih tinggi sendiri, beda dengan perumahan di pusat kota yang seperti lokasi syuting film mafia.

Awan tersibak, makin mencerahkan warna rumah yang memanjakan mata. Semakin dalam kami telusuri, ada area penuh pohon ketapang, dan anak-anak leluasa bermain di sana. Utopia skala kecil.

Segera kami menemui bagian marketing. Seorang perempuan berjilbab dengan ramah menjelaskan pada kami ada apa saja di tempat ini. Masjid, keamanan, akses. Semua yang vital. Kami berjalan kaki menengok satu unit yang masih kosong.

Laras terus mengikuti. Bukan tugasnya menjelaskan seluk beluk unit ke calon pembeli, karena dia adalah admin. Kami bertukar senyum. Alasan Laras hadir adalah karena aku dan ibu datang ke sini berkat dia sebagai perantara.

Bagian dalam masih tak ada apa-apa. Lantai putih bersih. Dua kamar dengan pintu cokelat. Ada teras dengan area kecil berisi tanah, kelihatannya bisa ditanami. Semuanya terlihat baik sejauh ini.

“Harganya?” ibu bertanya setelah mengobservasi tiap sudut.

Si perempuan marketing tersenyum. “260 juta, Bu.”

“Soal surat-suratnya bagaimana?” tanyaku, karena itu yang paling penting.

“Untuk saat ini, semua unit masih atas nama developer. Tapi kalau sudah dilakukan pelunasan, akan langsung balik nama, dan SHM atas nama pembeli akan terbit paling lambat enam bulan.”

Kedengarannya menjanjikan. Terlalu menjanjikan. Kasus demo di perumahan sebelumnya masih terproyeksi di memoriku. Mengingat kasus konflik agraria yang sering muncul di beranda media sosialku, enam bulan itu terdengar sebentar, tapi juga tidak pasti.

Kutatap ibu. Kumiringkan kepalaku, memberi kode padanya, bertanya apakah sudah yakin. Namun, ibu malah memberi ekspresi yang mengisyaratkan bahwa pencarian kami sudah berakhir.

Ibu menoleh ke bagian marketing. “Berapa tadi?”

“260 juta. Tapi kalau Ibu mau ambil KPR, ada pilihan–”

“Enggak, enggak.” Senyum percaya diri muncul di wajah ibu. “Saya gak mau ambil KPR. Saya mau bayar cash.”

Si bagian marketing semringah. Dia langsung bersikap seolah bertemu saudara lama. Diajaknya ibu berjalan menuju kantor developer. Entah apakah sikapnya akan berubah ketika tahu kalau uangnya belum ada.

Lihat selengkapnya