Sambil duduk sendirian di ruang tamu, kuamati Pak RT yang sibuk menyapu aspal depan rumah di bawah mendung. Tak biasanya nasi uduk yang jadi sarapanku terasa hambar. Mungkin kurang rempah. Atau mungkin karena bencana jebakan semalam.
Rupanya benar. Ujung-ujungnya, ini masalah uang. Bertahun-tahun ibu memperingatkanku soal saudara-saudaranya, tapi mataku baru terbuka saat terperangkap di rumah paman yang kupercaya.
Generasi tua terkutuk. Bawa-bawa adat sebagai kedok, padahal aslinya hanya minta bagian. Ruang tamu rumah Om Saiful jadi lokasi pendirianku dihajar habis-habisan. Diskusi keluarga tai kucing.
Tante Ratmi tiba-tiba menampakkan wajah penuh empati. “Ini demi kebaikanmu juga, nak.”
Sempat-sempatnya dia berkata seolah peduli pada keadaanku. Topeng.
“Gak bisa, Tante,” ucapku, masih dengan nada yang tak meninggi. “Kami mau urus sendiri aja.”
“Kalam, turuti ajalah!” Om Saiful membentak.
Aku tetap tenang, berdiri dan menjauh. “Terus apa? Kalian carikan rumah murah, biar kalian bisa dapat bonus lebih?”
Wajah tenang Om Saiful kini berubah penuh amarah. “Sudah seharusnya ibu kamu diskusi sama kami soal rumah itu. Kami ini saudaranya!”
“Enggak, Om. Ibu gak wajib diskusi soal rumah. Waktu itu aku masih kecil, tapi aku ingat detailnya. Kalian sudah dapat kompensasi, sama rata. Apa yang terjadi sama rumah itu bukan urusan Om dan Tante lagi.”
Tante Ratmi berdiri, matanya melotot. “Lancang kamu! Dasar anak–”
“Aku berterima kasih banget untuk bantuan yang lain,” kusela umpatan Tante Ratmi. “Lampu, uang bengkel, sembako .... Tapi kali ini, kami mau selesaikan masalah sendiri, tanpa perlu dibantu.”
Kupunggungi Om Saiful dan Tante Ratmi. Kubuka pintu. Langkahku mantap menuju motor. Bahkan masih sempat kudengar sumpah serapah Tante Ratmi ketika membuka pagar.
“INGAT, KALAM! HARAM KAMU JUAL RUMAH ITU! AKAN AKU PASTIKAN GAGAL! BAKAL KUCARI PEMBELINYA KALAU PERLU!”
Aku terus melaju di bawah air yang terus tertumpah dari langit. Sesekali petir membentak. Aku tidak peduli. Soalnya kali ini, aku punya jas hujan.
Ada tiga ciri orang munafik. Berdusta, ingkar janji, dan berkhianat. Aku terbiasa bohong. Ibu juga begitu, ditambah ingkar janjinya soal utang. Om Saiful memegang sifat ketiga.