Aroma kopi dan tawa terbahak-bahak sekumpulan bapak muda mengiringi kedatanganku. Masih pagi. Mataku terus memindai target. Hingga kutemukan sosok gundul berjaket ojek online duduk ngopi sendirian seraya menonton video AI.
Entah apa masih pantas kusebut lelaki itu keluarga. Apa aku dendam? Tidak juga. Mungkin lebih ke sulit menerima kenyataan akibat pengkhianatan di malam berhujan beberapa waktu lalu.
Kudekati Om Saiful, mengalihkan perhatiannya dari smartphone. Dia mengangguk. Itu isyarat agar aku duduk di hadapannya.
Semalam, lima kali dia menelepon, tapi terus kubiarkan menjadi panggilan tak terjawab. Harusnya tetap begitu. Namun, di panggilan keenam, aku mengalah dan menuruti permintaannya bertemu.
Bukan karena aku tunduk. Aku hanya menghindari jangan sampai malah dia yang datang ke rumah dan membawa Tante Ratmi berbuat huru-hara.
“Mau apa lagi, Om?” aku bertanya dengan intonasi tenang dan tak menunjukkan pemberontakan.
Wajah Om Saiful masam. “Kayaknya gak ada cara lagi buat bikin kamu yakin kalau tindakan kamu ini salah, ya?”
“Kalau cuma mau misuh soal rumah lagi, mending gak usah deh, Om,” kataku sambil bersiap beranjak. “Aku lagi banyak urusan.”
“Dengar dulu, Kalam. Om gak sama seperti Tante Ratmi.”
Ucapan itu sudah cukup untuk menahanku. Premis yang menarik. Sebagai sesama pemegang sifat munafik di keluarga besar, aku ingin melihat bagaimana cara main Om Saiful kali ini. Apakah dia sedang berlindung, atau berusaha menjatuhkanku.
Meja warung kopi jadi arena duel mental. Kutunjukkan senyum simpul. Dalam perdebatan ini, aku harus tetap memasang topeng keponakan yang sopan. Tentu kemarahanku harus tetap tersalurkan tanpa membentak orang lebih tua.
“Yakin, Om? Terus kenapa waktu itu Om malah ikutan serang aku?”
“Itu ....” Om Saiful menyeruput kopinya. “Om cuma tes kamu. Mau lihat reaksi kamu kalau berhadapan langsung dengan Tante Ratmi.”
Aku hanya terkekeh. Lelaki di depanku jelas kehabisan alibi.
“Aku gak suka dites, Om. Menurutku tes kayak gitu gak ada gunanya. Cuma bikin retak keluarga.”
“Tante Ratmimu itu belum sepenuhnya marah kemarin.”
Kutarik napas panjang. Senyum simpulku tak luntur. “Langsung aja, Om. Waktu tahu rumahku mau dijual, Om berharapnya dapat apa?”
Om Saiful menggebrak meja. “Kenapa sih, kamu lihat Om kayak orang mata duitan?”
Seketika hening. Aku dan Om Saiful sama-sama menyadari bahwa perhatian seisi warung kopi tertuju pada kami. Lima detik berlalu, dan semua orang kembali dengan rutinitas masing-masing. Mungkin sekadar meninggalkan ruang canggung untuk kami berdua.
“Kamu jangan kurang ajar, Kalam!” Om Saiful setengah berbisik. “Bagaimanapun juga, saya masih om kamu. Gak sepantasnya kamu ngomong gitu ke saya.”
Senyumku kusimpan sejenak. “Aku gak tuduh Om mata duitan. Tapi pas Tante Ratmi mulai bahas adat dan bantuan, Om juga kayaknya semangat deh.”
“Dengar baik-baik. Tante Ratmi sudah bilang bakal menggagalkan kalian jual rumah itu, dan pasti bakal dia lakukan! Cuma Om yang bisa bantu kamu dan ibumu buat menghindari amukan Tante Ratmi.”