Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #24

Boleh

Aku hafal wajah orang PDAM, juga tahu ciri orang PLN. Yang ada di teras saat ini bukanlah mereka. Tentu saja. Petugas PLN mana yang datang memeriksa listrik di waktu hujan?

Padahal aku sudah tahu serangan Tante Ratmi akan datang, tapi tidak kusangka akan secepat ini. Berulang kali dua pria itu mengucap salam. Aku terus bersembunyi.

Tanpa bermaksud body shaming, tapi sepertinya wajah dua lelaki itu menunjukkan kalau mereka tidak akan bisa diajak diskusi rasional.

Motorku terguyur hujan di depan rumah. Tidak masalah. Di lingkungan urban seperti ini, siapa saja bisa memarkir kendaraan di depan rumah orang lain. Kuharap, dua orang asing itu juga berpikir demikian karena mereka tidak tahu motorku seperti apa.

Sialnya, aku tidak menutup pintu ruang tamu. Bukan karena lupa. Rencanaku tadi adalah langsung melesat begitu menemukan KTP ibu. Sekarang itu malah membongkar keberadaanku sendiri.

Aku harus keluar. Semakin lama aku terjebak di sini, akan semakin alot urusan di kantor notaris. Saat ini, aku benar-benar berharap punya salah satu alat Doraemon yang bisa membuatku tak terlihat.

Ada satu hal bisa kupastikan. Mereka bukan polisi. Tante Ratmi memang punya kenalan istri orang besar, tapi bukan berarti dia bisa ikut seenak jidat menggunakan aparat untuk menyelesaikan masalahnya.

Sangat pelan aku bergerak, merayap dan mengintip di celah lantai kayu yang ditembus kayu tiang. Kini dua lelaki itu berdiri di ambang pintu. Tak ada lagi salam. Mereka hanya mengamati seisi rumah.

“Gak ada orang,” ucap salah satunya.

“Di atas, mungkin?” balas rekannya.

Gawat! Aku tidak punya banyak waktu. Bergerak tergesa-gesa akan membuat lantai kayu berderit dan posisiku ketahuan. Berteriak maling juga tidak akan mempan karena deras hujan menutupi suaraku.

“Eh, bentar dulu.” Belum ada dua langkah, mereka berhenti. “Yakin ini rumahnya? Kalau salah, gimana?”

“Lu bagaimana, sih?” Rekannya bertolak pinggang. “Kan dari tadi udah gue suruh perhatikan alamatnya di Google Maps! Lu sendiri yang bilang udah benar!”

“Kalau nama jalannya udah benar. Tapi rumahnya yang gue gak tahu.”

“Rumah warna putih! Udah dikasih tahu sama Bu Ratmi, lu dengar atau enggak sih tadi?”

“Ya itu di sana, tiga rumah dari sini, warnanya juga putih! Nih, di sebelah juga putih! Kocak lu!”

“Terus maunya kita cek satu-satu, gitu?”

“Ya buktinya gak ada orang begini! Entar kalau salah, kita main masuk-masuk aja, terus tahu-tahu yang punya rumah pulang, kita diteriaki maling, mau apa lu?”

Perdebatan mereka jadi kesempatan emasku. Aku merayap, pelan. Tidak kubiarkan berat tubuh dan jas hujanku menghasilkan suara di atas permukaan kayu. Terus saja aku melaju hingga ke tangga.

Suara mereka menghilang. Kala kakiku mulai mencapai anak tangga, kucoba mengintip. Ternyata mereka berdua sudah tak ada di ambang pintu.

Kupercepat lajuku. Aku berlari menuruni tangga hingga menyentuh lantai. Kebebasan sudah ada di depan mata.

“Tuh kan, benar? Ini rumahnya!”

Lihat selengkapnya