Bilang, Ibu Gak Ada di Rumah

Naufal Abdillah
Chapter #25

Kasih Tahu Ibunya, Semoga Bahagia

Matahari pagi belum terlalu ganas. Aku berjalan santai. Tanganku menenteng kantong kresek berisi roti keju dan susu stroberi yang kubeli dari toko kelontong 80 meter dekat rumah. Kuhirup udara yang belum dicemari asap knalpot.

Pak RT menyapu jalan sekitar rumah. Dia menyapaku. Aku balas dengan senyum ramah, lalu masuk mengamati kuli panggul bekerja memindahkan barang-barang dalam rumahku ke mobil pick up sejak waktu subuh usai.

Sengaja aku memilih waktu ini agar perjalanan mereka ke rumah baruku tidak dihadang macet dari budak korporat berangkat kerja dan anak-anak sekolah.

Sudah dua bulan sejak kemenangan kami. Masalah tidak lantas berakhir. Kedamaian tidak serta merta hadir. Hanya berselang satu minggu sejak rumah baru itu terbeli, kejadian tak enak melanda.

Tante Ratmi masih menyempatkan diri untuk datang dan mencaci maki keluargaku. Kirana benar. Kalau masalah uang, saudara ibu lebih parah dari lintah darat. Bahkan Tante Ratmi sudah tidak menyembunyikan niatnya untuk mendapat kucuran dana.

Bedanya, ibu tidak sakit hati, atau setidaknya itu yang kulihat. Dia tetap tersenyum. Bahkan ketika Tante Ratmi pergi dengan wajah merah padam dan gerutu, tak sedetik pun ibu menitikkan air mata. Dia tetap masak, belanja, lalu bergosip dengan tetangga.

Bicara soal tetangga, ibu sempat cerita kalau mereka menangis ketika mendengar kami mau pindah rumah. Entah apa alasannya. Mungkin sebagai sesama pejuang cicilan, solidaritas itu terbentuk otomatis.

“Om, coba periksa lantai atas,” kata salah satu kuli, “siapa tahu masih ada barang yang belum diangkut.”

“Oh iya.” Aku tersenyum. “Tunggu sebentar.”

Lantai satu sudah kosong. Bahkan sudut-sudut tempat kucing hitamku biasanya buang air kini terlihat jelas karena tak ada lagi perabotan. Hewan itu juga tak mau meninggalkan jejak di rumah lama.

Terus saja aku menaiki tangga. Kuperiksa kamar satu per satu. Aman. Kututup tiap jendela, jangan sampai air hujan masuk dan merepotkan Pak Haris yang nanti akan bersih-bersih.

Langkahku terhenti di depan kamar Kirana. Aku mendongak. Tambalan-tambalan di atap membuat air mata perlahan mengaliri pipiku. Memori 25 tahun kehidupanku di rumah ini muncul serentak. Bahagia, bahaya, kehilangan ... semuanya.

Tidak kusangka akan datang hari di mana kami benar-benar akan meninggalkan rumah ini.

***

 

Lagu Jepang menggema di dalam kamar. Aroma martabak menyerbak. Sekali lagi, malam diisi dengan pesta kecil. Vincent dan teman ateisnya tertawa terbahak-bahak ketika pengalamanku diputuskan Laras jadi pembahasan.

Vincent menelan martabak. “Ngomong-ngomong, ini traktiran martabak hasil jual rumahmu?”

“Mana ada.” Aku terkekeh. “Kamu mau lihat aku dicambuk ibuku gara-gara pakai uang itu buat hura-hura?”

“Jadi, bagaimana ceritanya?” Vincent mengambil satu potong martabak lagi. “Kok tiba-tiba orang itu bisa langsung punya uang untuk beli rumahmu?”

“Kalau dari yang kudengar sih, orang itu ambil pinjaman di bank untuk lunasi pembelian rumahku. Namanya juga pengusaha. Gampang cari pinjaman.”

Lihat selengkapnya