Palupi berjalan sambil terengah-engah karena harus meniti puluhan anak tangga. Ia perlu beristirahat di setiap lantainya, mengatur napasnya kembali, sampai memiliki energi untuk melanjutkan titian tangga agar sampai di lantai tempatnya bekerja. Di lantai tiga Palupi berhenti lagi.
“Sial.” katanya sambil mengumpat.
Ia menempelkan punggung pada dinding dingin sambil menarik napas panjang. Sayangnya gedung ini hanya memiliki satu lift, dan lift itu sedang rusak sejak minggu lalu. Sejak itu, setiap pagi ia terpaksa berolahraga yang tidak pernah ia jadwalkan, seperti ia menjadwalkan Zumba bersama rekan kerjanya setiap hari Kamis sore.
Suara papan ketik terdengar saut-sautan dari beberapa meja kerja, bunyi printer, scanner, mesin fotokopi yang mulai berbunyi yang tidak akan berhenti sampai nanti waktunya pulang, suara percakapan kecil terdengar sayup-sayup dari setiap baris berisikan para staf pemeriksa keuangan. Palupi berjalan mengendap-endap, namun di setiap lorong yang ia lewati ada saja yang menyapanya—baik mengucapkan selamat pagi, atau menanyakan menu sarapannya. Padahal ia berharap tidak ada satu pun orang yang sadar akan kedatangannya, ia terlalu malas kalau harus diketahui kehadirannya karena ia datang terlambat hari itu. Dan di saat seperti itu, dari kejauhan tiba-tiba terlihat atasannya tengah berbelok ke arahnya, ia terpaksa memasang wajah ceria.
“Pagi, Lup.” atasannya berkata.
“Pagi pak!” penuh semangat, namun dalam hatinya merasa lega karena tidak ditanya datang jam berapa tadi pagi.
Begitu duduk di kursinya, ia mulai mengeluarkan isi tasnya—pouch make up, agenda kerjanya, dan ponsel beserta pengisi dayanya. Ia mulai membenahi tampilannya, merapikan alisnya di cermin kecil sebelum akhirnya merasa cukup pantas menghadapi dunia.
Palupi perlu waktu untuk memulai rutinitas membosankan itu—sebelum menghadapi rentetan angka yang perlu ia analisa dan laporan-laporan keuangan lainnya. Sambil mengumpulkan niat dan mood, ia membuka ponselnya, mengecek setiap pesan yang masuk, mampir di setiap media sosialnya, dan memutarkan lagu dengan tempo cepat untuk membangkitkan suasana hatinya. Sampai pada satu notifikasi yang sempat terlupakan sejak tadi pagi di rumah.
BLOGSPOT | MissRy posted a new entry.
Jempolnya berhenti tepat di atas notifikasi itu.
Klik.
BLOGSPOT
Jul 6 | MissRy posted :