“Rinjani Saragih.”
Namanya dipanggil dari berbagai arah. Ia berdiri di depan cermin besar yang dikelilingi lampu bulat. Perempuan di hadapannya terlihat nyaris sempurna; kulit tanpa cela, tulang pipi yang tegas, mata yang dipoles agar terlihat lebih hidup dari yang sebenarnya.
“Rinjani Saragih!”
Kali ini suara itu terdengar lebih dekat. Rinjani tidak menjawab. Ia tidak tahu mengapa, mungkin karena suara itu terdengar seperti datang dari masa lalunya, dan perempuan di dalam cermin itu juga masih menatapnya.
Dulu, Rinjani sangat akrab dengan cermin, sekarang ia berusaha menghindarinya. Ia tidak ingin melihat wajah yang sama dengan kulit yang kusam, mata yang kehilangan cahayanya, dan tubuh kurus yang tak lagi di urus dengan baik. Namun pada akhirnya, ia memaksa dirinya untuk benar-benar melihat cerminan perempuan di hadapannya.
Rinjani mengangkat tangannya dan menyentuh wajahnya sendiri. “Siapa perempuan ini?” tanyanya pelan. Hanya dirinyasendirian yang mendengar.
Ia mengusap matanya, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu mencoba tersenyum, namun senyum itu terlihat asing di wajahnya sendiri. Tidak ada yang berubah. Ia menatap dirinya dalam cermin sekali lagi, setelah tidak berhasil memperbaiki perasaannya terhadap perempuan di dalam cermin, ia lalu meninggalkan ruangan itu.
Suara detak jam di ruang makan terdengar begitu nyaring. Rumah terasa sunyi—selalu seperti itu sebelum Baskara Santoso pulang. Rinjani kadang berbicara pada dirinya sendiri hanya untuk mendengar suara manusia di dalam rumah itu, namun malam selalu lebih cepat menyerap suaranya. Terkadang ia merasa kesepian, kesepian ini berbeda dengan rasa kesepian yang pernah ia rasakan sebelumnya. Dulu, kesepian berarti tidak memiliki sahabat untuk diajak bicara atau keluarga yang bisa didatangi. Yang ini berbeda, kesepian ini, perlahan-lahan, berubah menjadi ketakutan.
Rinjani memiliki apa yang selama ini ia impikan. Hanya saja, belakangan ini ia mulai berpikir: mungkin bermimpi terus-menerus memang lebih baik daripada terbangun dari mimpi itu sendiri.
Saat terjaga, satu-satunya hal yang perlu dilakukan Rinjani adalah menjalankan semua kewajibannya sebagai istri. Ia menghabiskan seluruh tenaganya untuk rumah, lalu menyisakan sedikit tenaga untuk mempersiapkan dirinya menyambut suaminya pulang.
Sambil menunggu, ia menyalakan televisi dengan volume yang hampir tidak terdengar sama sekali. Ia tidak benar-benar memperhatikan apa pun yang sedang tayang dalam layar, hanya kilatan cahaya dan kaburnya gambar-gambar bergerak di layar. Namun setidaknya, televisi itu membuat rumah terasa sedikit kurang sepi, dan seolah-olah ada seseorang yang menemaninya.
Tak lama kemudian, terdengar suara berdecit nyaring, gerbang rumah dibuka, suara kendaraan berhenti di depan rumah, pintu mobil dibuka, lalu bunyi kunci yang berputar pada lubangnya. Rinjani langsung tahu siapa yang datang, ia bahkan bisa mengenali cara Baskara membuka pintu—apakah ia mendorongnya dengan pelan, atau menyentakannya hingga membentur dinding. Malam itu, pintu terbuka pelan—itu bukan pertanda baik maupun buruk, dan justru paling menakutkan ketika ia tidak bisa membacanya.
Baskara tidak langsung bicara, ia meletakkan tasnya, melonggarkan dasi, lalu berdiri sejenak sambil memandangi ruangan, seolah-olah sedang memindai sesuatu. Matanya berhenti pada Rinjani selama beberapa detik—bukan tatapan marah, namun cukup membuatnya lupa bagaimana caranya berdiri dengan nyaman.
“Sudah makan?” tanyanya dengan suara datar. Rinjani tahu pertanyaan itu bukan karena Baskara benar-benar ingin tahu apakah ia sudah makan atau belum, namun ia tetap menjawab dengan hati-hati—dengan nada yang tepat, dengan ekspresi yang tepat, dengan jarak yang tepat, semuanya harus tepat.