"Kita sudah sampai," ujar seorang wanita berambut pendek sebahu dengan bibir merah tebal saat memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Di sampingnya, seorang lelaki berkumis tipis langsung membuka kedua matanya saat mendengarkan suara wanita yang sejak tadi menyetir itu memecah keheningan.
Butuh waktu yang lama ternyata untuk bisa sampai ke tempat ini. Dua jam perjalanan, ia bahkan sempat tertidur untuk waktu beberapa puluh menit. Sementara si wanita yang menyetir tetap saja fokus berkendara sambil mendengarkan musik swing favoritnya.
"Lagu yang kau putar selama perjalanan itu membuat rasa kantukku semakin parah," protes lelaki itu saat keluar dari mobil yang membuat si wanita hanya bisa memutar bola matanya jengah, seakan sudah terbiasa dengan omongan lelaki itu yang selalu mengomentari masalah selera musiknya.
Soal selera ia juga rasanya ingin sekali mengomentari masalah selera berpakaian lelaki itu. Mengenakan jas warna kuning menyala di cuaca terik seperti ini hanya membuat silau dan sakit mata saja. Tapi si wanita tidak ingin membuat obrolan semakin panjang, yang ada mereka berdua hanya akan berakhir berdebat seperti anjing dan kucing saja. Lagipula ada dua hal yang membuatnya tidak berhasrat untuk berdebat kali ini. Pertama, lelaki dengan jas kuning menyala itu adalah rekan kerja sekaligus atasannya dalam dunia perdetektifan. Kedua, mereka berdua sedang berada di tempat kejadian perkara yang mana ada hal lebih penting untuk dilakukan selain berdebat masalah selera musik dan pakaian.
"Di mana mayat itu ditemukan?" tanya lelaki itu lagi sambil memasang topi khas miliknya, selain sebagai pelindung cuara terik yang panas juga sebagai ciri khas dari personalitinya. Wanita itu menunjuk ke arah persimpangan jalan seberang, tempat di mana suasana perjalanan langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Siapa sangka benar adanya sebuah daerah kumuh, padat dan suram di pinggiran kota seperti ini.
"Di tempat penampungan sampah daerah Bimbo itu, mayat Broto Suryokerto ditemukan," jawab wanita itu yang langsung membuat si lelaki memicingkan mata.
"Bimbo? Itu nama jalan tempat itu?" tanya si lelaki memastikan.
"Entahlah. Setidaknya, begitulah orang-orang menyebut kawasan itu," balas si wanita sambil melemparkan sebuah jaket hitam ke arah lelaki itu sebelum mereka menyeberang menuju tempat yang disebut Bimbo.
"Hei, hei, Olivia..."
"Setidaknya jangan terlalu mencolok jika ingin melakukan penyelidikan, Lieutenant," potong si wanita yang membuat si lelaki langsung kehilangan kata-kata sehingga tidak punya pilihan selain mengenakan jaket hitam itu demi menutupi pakaian cerahnya.
Ya, dua orang ini sedang menjalankan tugasnya.
Si lelaki berkumis tipis itu adalah Letnan Detektif Jagat Dunia. Di balik kumis tipis dan parfum musk maskulin, Jagat Dunia bukanlah figur polisi konvensional yang bersembunyi di balik meja birokrasi. Bagi masyarakat luas dan orang awam, ia adalah sang "Detektif Seleb" yang terkenal itu. Sebuah hasil dari fenomena langka di mana lencana kepolisian dan popularitas digital melebur jadi satu.
Ketenarannya bermula dari sebuah kasus pembunuhan berantai beberapa tahun yang lalu. Saat ia tengah memberikan konferensi pers di bawah sorot lampu kamera media, wajah tampannya yang simetris dikombinasikan dengan pembawaan nan flamboyan langsung memikat perhatian publik dan sosial media. Potongan video penjelasannya yang karismatik mendadak viral di seluruh dunia maya dalam semalam. Jagat tidak hanya berhasil menjebloskan sang kriminal ke balik jeruji besi, tetapi juga memenangkan hati jutaan pengikut baru di luar sana.
Dampak dari viralnya kasus tersebut langsung mengubah total garis hidupnya. Instansinya memanfaatkan momentum itu untuk menaikkan citra kepolisian yang mana membuat Jagat langsung mendapatkan promosi kilat untuk menjadi sang Letnan Detektif. Sejak saat itu, kehidupan profesionalnya sebagai salah satu orang kepolisian berjalan di dua dunia yang bertolak belakang secara beriringan dan secara mengejutkan, ia sangat menikmatinya. Ya, Jagat menyukai hidup sebagai detektif dan selebriti di saat yang bersamaan.