Jagat Dunia dan Olivia Wilde melanjutkan langkah mereka untuk semakin masuk menyusuri kawasan Bimbo. Kawasan itu adalah perkampungan kumuh yang letaknya di tepi pantai, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.
Rumah-rumah berhimpitan dan reyot berdiri di sana. Mayoritas penghuninya adalah para bekas migran dan pengungsi yang gagal. Mereka datang kembali dengan tangan kosong, tidak berhasil, tidak sukses dalam karir dan pekerjaan mereka. Ada yang berakhir terlilit utang, terdampar, dan harus berjuang keras untuk bisa bertahan hidup setiap hari setelah merantau dari luar negeri dan pulang tanpa bisa memberi kejayaan yang dimimpikan.
Bau amis ikan bercampur aroma limbah menyambut langkah mereka. Jagat merapatkan jaketnya. Matanya mengawasi setiap sudut lorong sempit yang pengap. Di ujung jalan, Olivia menunjuk sebuah gubuk yang terbuat dari seng bekas dan kayu lapuk. Gubuk itu sudah nampak tidak kayak huni namun di depan gubuknya masih ada seorang ibu yang sedang menimang bayi dalam dekapannya. Itu hanyalah contoh dari bagaimana kawasan Bimbo itu sebenarnya.
"Ini adalah kawasan yang benar-benar memprihatinkan untuk menjadi tempat kejadian perkara pembunuhan," gumam Olivia seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri sambil menyusuri jalan.
"Kita harus berhati-hati, Olivia," kata Jagat tegas sambil memegang pistol di balik jaket yang sedang ia kenakan.
"Kawasan ini penuh dengan keputusasaan. Orang yang tidak punya apa-apa biasanya sangat nekat..."
"Tidak usah berlebihan," potong Olivia yang langsung membuat Jagat rasanya ingin tersedak di tempat. Padahal lelaki itu sudah berusaha sebisa mungkin untuk memberikan citra sebagai detektif yang handal namun sebagai rekan Olivia ini selalu saja mampu untuk menjatuhkan harga dirinya.
Mereka berdua kembali melangkah. Langkah kaki mereka menginjak jalanan tanah yang becek karena saluran air yang mungkin bocor dan belum diperbaiki. Di antara himpitan rumah-rumah itu, banyak anak kecil berlarian tanpa alas kaki dan wajah penuh debu.
Sekali lagi, memprihatinkan.
Kawasan Bimbo yang sedang menyimpan rahasia kelam.
Jagat menghentikan langkahnya sejenak. Ia melihat sekeliling lalu bergumam pelan.
"Kawasan Bimbo..." gumam Jagat singkat sambil memicingkan kedua matanya.
"Bimbo dalam bahasa Jepang artinya miskin, kan?" tanya lelaki itu lagi dengan nada memastikan.
"Mungkin sebagian penghuni di sini adalah mantan pekerja dari Jepang dulunya. Mereka pulang ke tanah air dan berakhir menjadi 'Bimbo'. Bisa saja seperti itu," timpal Olivia sambil mengedarkan pandangannya, memperhatikan keadaan sekitar lalu kemudian melirik Jagat dengan tatapan menyindir.
"Kau harusnya banyak bersyukur, Letnan. Menjadi 'Bimbo' di negeri yang sedang banyak cobaan seperti ini adalah sebuah cobaan yang mematikan," sindirnya. Sindiran tajam itu sengaja dilemparkan Olivia agar Jagat tidak selalu mengutamakan citra dirinya. Namun, Jagat yang tidak peka sama sekali tidak peduli akan maksud perkataan rekannya. Sekarang giliran lelaki itu yang langsung memotong pembicaraan Olivia.
"Jadi, mana target yang sedang kita selidiki?" tanya Jagat sambil memasukkan kedua tangannya di dalam jaket, memasang pose khas hero dalam film noir.
Olivia menghela napas panjang melihat atasannya ini. Ia pada akhirnya mengangkat tangan dengan pasrah lalu menunjuk ke sebuah arah yang dekat dari tempat pembuangan sampah yang mereka sudah telusuri tadi.
"Di sana," jawab Olivia. Jari Olivia mengarah lurus ke sebuah rumah paling ujung. Posisi rumah itu berada paling dekat dengan tempat pembuangan sampah. Di sanalah titik lokasi kejadian perkara pembunuhan Broto Suryokerto yang baru saja mereka lihat tadi, tidak terlalu jauh dari rumah yang Olivia sedang tunjuk.
Jagat menatap tajam ke arah rumah yang ditunjuk Olivia itu. Ia mulai menganalisis posisi bangunan kumuh tersebut. Jaraknya memang sangat dekat dari tempat kejadian perkara, yaitu tempat pembuangan sampah lokasi Broto Suryokerto ditemukan tewas.
"Kau yakin rumah itu adalah target yang paling tepat untuk dicurigai?" tanya Jagat kepada Olivia, mencoba memastikan keterkaitannya dengan kematian Broto Suryokerto.
Olivia langsung menjawab dengan taktis.