Krek~
Suara bunyi pintu yang nampaknya sudah sangat lapuk. Jagat dan Olivia akhirnya melangkah masuk bertamu ke dalam rumah milik gadis itu dengan dalih untuk menumpang istirahat. Si gadis dengan ramah menawarkan segelas air putih hangat.
Hal itu seketika membuat Jagat dan Olivia merasa tidak enak hati karena merasa sudah merepotkan gadis ini. Namun, si gadis polos bersikeras agar Jagat dan Olivia jangan merasa sungkan. Ia tersenyum tulus dan mengaku sangat senang bisa membantu orang asing yang sedang kesusahan. Apalagi kawasan ini letaknya di pesisir, jauh dari kota sehingga ia merasa Jagat dan Olivia mungkin kesusahan untuk mencari bantuan demi memperbaiki mobil mereka.
"Bapakku cukup tahu soal mesin, kalau sudah pulang mungkin ia bisa melihat mobil kalian," ujar gadis itu membuka percakapan yang membuat Jagat dan Olivia langsung saling melihat satu sama lain. Mobil mereka sama sekali tidak mogok atau rusak. Mobil itu sedang berada dalam kondisi terbaiknya, sedang terparkir di luar sana dengan damai dan sentosa.
Sembari menerima suguhan tersebut yang amat sederhana tersebut, Jagat dan Olivia mulai mengamati sekeliling rumah. Ini adalah rumah yang paling kumuh dan reyot di kawasan Bimbo. Bangunan ini hanya memiliki beberapa bilik ruangan sempit. Kayu-kayu penyangganya sudah sangat lapuk. Bahkan, banyak bagian dinding dan langit-langit di dalam ruangan rumah ini yang sudah bolong-bolong dengan cat terkelupas. Olivia pada akhirnya memecah keheningan dengan bertanya, "Siapa namamu, Dek?"
"Nama saya Laras, Kak," jawab si gadis sambil tersenyum lembut.
Laras terlihat seperti seorang remaja yang usianya sekitaran 18 tahun, kemungkinan anak dari pemilik rumah reyot ini. Olivia agak terkesan saat memandangi betul-betul wajah gadis itu dari dekat. Laras terlihat sangat cantik. Kecantikannya begitu natural. Kulitnya putih namun tidak pucat, meski agak kucel namun ia tetap terlihat menawan dengan beberapa butir keringat di dahinya yang berkilau. Bahkan dalam kondisi miskin, hanya mengenakan kaus biasa yang pudar dan celana legging yang sudah usang, gurat kecantikan di wajahnya tidak bisa disembunyikan. Jagat pun nampak ikut memandangi Laras dengan tatapan terkesan. Dalam hati, Jagat agak sedikit menyayangkan mengapa gadis secantik ini harus terlahir di tempat semiskin ini. Jika dibawa ke kota besar, Laras mungkin bisa dengan mudah menjadi aktris terkenal atau bintang iklan papan atas.
Sungguh disayangkan.
Mencoba menggali informasi yang merupakan buat pertama mereka bisa sampai kemari, Jagat akhirnya bertanya, "Apakah Laras tinggal sendiri di rumah ini?"
"Tidak. Saya kan sudah bilang tadi. Saya tinggal bersama keluarga saya. Ada Bapak, Ibu, dan seorang adik laki-laki," jawab Laras polos.
"Mereka semua sedang di mana ya sekarang?" tanya Jagat lagi sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Laras menjawab dengan raut wajah tanpa beban, "Mereka semua sedang keluar. Sekarang giliran mereka yang pergi mencari makan, dan waktunya Laras yang kebagian tugas menjaga rumah."
Jagat dan Olivia agak prihatin mendengar jawaban gadis itu. Ditambah lagi, Laras terlihat begitu ceria saat menceritakan kehidupan sehari-harinya yang sebenarnya terdengar sangat memprihatinkan, di mana mereka sekeluarga harus bergiliran keluar rumah hanya demi mencari makan. Namun, kedua detektif itu segera tersadar kembali pada tujuan utama mereka kemari.
Mereka harus mencari informasi penting terkait kasus yang sedang ditangani.
Olivia akhirnya mulai memancing pertanyaan kembali, "Laras, beberapa hari yang lalu... di sekitar sini ada kasus pembunuhan, ya?"
Laras awalnya agak terkejut mendengar Olivia mendadak membahas topik sensitif tersebut. Perubahan raut wajah yang terjadi sekejap itu langsung disadari oleh insting tajam Jagat. Laras kemudian membalas dengan nada heran, "Kalian berdua juga mengetahuinya, ya? Apa beritanya begitu heboh hingga sampai masuk ke berita kota?"
Olivia bergerak cepat menjaga penyamaran mereka. Ia langsung menyahut, "Ah, iya. Aku dan 'suamiku' ini, sempat melihat beritanya sekilas di surat kabar kemarin. Makanya kami jadi agak penasaran saat lewat sini."
Jagat agak sedikit terbatuk saat mendengar Olivia kembali menyebut dirinya dengan sebutan 'suami' yang terdengar sangat janggal itu, namun Olivia buru-buru menyikutnya dengan sikunya yang lancip dan tajam, mengembalikan kesadarannya dan bersikap seolah tidak ada apa-apa.
Melihat kesempatan untuk menggali informasi lebih dalam lagi, Olivia kembali memancing pembicaraan agar bisa mendapatkan sesuatu yang lebih akurat dari sekadar obrolan basa basi.
"Apa Laras kenal dengan orang yang dibunuh itu?" tanyanya dengan tatapan agak menyelidiki
Laras menghela napas pendek, lalu akhirnya menjawab, "Siapa yang tidak kenal dengan Broto Suryokerto? Dia adalah rentenir utama di kawasan ini."
"Rentenir?" Jagat langsung menyambar informasi baru tersebut. Gadis itu mengiyakan dengan mengangguk pelan. Laras kemudian menjelaskan dengan detail, suatu informasi yang Jagat dan Olivia anggap berharga dan mereka coba rekam sebaik mungkin dalam ingatan mereka berdua.