Keesokan harinya, saat embun layaknya permata di atas daun, fajar yang baru saja menyingsing di ufuk timur, memantulkan cahaya keemasan yang samar di atas permukaan air laut yang tenang namun dipenuhi sampah di pinggiran kota.
Jagat Dunia dan Olivia Wilde sudah berada di posisinya masing-masing. Kedua detektif ini sepakat bahwa metode pengintaian harus diubah. Mereka tidak bisa lagi datang bersamaan sebagai sepasang suami istri yang tersesat. Kali ini, mereka bergerak sendiri-sendiri, membagi tugas untuk menguliti setiap jengkal keseharian keluarga Bimadi tanpa menyisakan satu celah pun.
Olivia Wilde sudah duduk di balik kemudi mobil sewaannya yang sengaja diparkir agak jauh dari pintu masuk kawasan Bimbo. Kaca mobilnya dilapisi kaca film yang sangat gelap, membuatnya bisa melihat keluar dengan bebas tanpa perlu khawatir wajahnya dikenali. Di atas pangkuannya, sebuah buku catatan kecil dan pena taktis sudah siap sedia. Tugas Olivia hari ini adalah mengawasi sang kepala keluarga, Budi Bimadi, serta istrinya, Ruminah, dan si bungsu, Saka.
Tepat pukul enam pagi, Olivia melihat sosok Budi Bimadi keluar dari rumah reyotnya. Pria itu mengenakan kaus oblong hitam yang sudah bolong di beberapa bagian dan celana pendek yang warnanya sudah memudar akibat air garam. Budi berjalan menuju ke arah dermaga kayu yang menjorok ke pantai pesisir, tempat di mana puluhan perahu nelayan tradisional bersandar.
Dari pengamatan Olivia yang terperinci selama berjam-jam berikutnya, pekerjaan Budi ternyata tidak sesederhana hanya menjala ikan. Budi Bimadi adalah seorang nelayan yang tangguh, namun ia juga memiliki peran lain yang cukup krusial di dermaga itu.
Selain pergi melaut menggunakan perahu kayu kecilnya untuk mencari ikan-ikan pinggiran atau kepiting bakau, Budi juga bertindak sebagai pengatur lalu lintas perahu-perahu nelayan di sana. Ia yang mengomandoi kapan sebuah kapal boleh bersandar, mengatur pembagian lapak jemuran ikan, hingga membantu menarik jangkar kapal-kapal besar yang kesulitan merapat.
Tubuh Budi terlihat sangat legam. Kulitnya yang kecokelatan dan kemerahan adalah saksi bisu dari matahari pesisir yang membakar tanpa ampun setiap hari selama bertahun-tahun. Otot-otot lengannya mengeras seperti kawat akibat terbiasa menarik tali tambang yang kasar dan memikul keranjang-keranjang berat berisi es batu dan ikan tangkapan. Budi bekerja tanpa banyak bicara. Gerakannya taktis, efisien, dan penuh otoritas di antara para nelayan lain. Olivia mencatat satu hal penting: pria ini memiliki pengaruh yang cukup besar di kalangan pekerja kasar pesisir, sebuah karakteristik yang bisa jadi sangat berbahaya jika dikombinasikan dengan dendam tersembunyi.
Sekitar pukul sepuluh siang, perhatian Olivia teralih ketika fokusnya beralih pada Ruminah, istri Budi. Dari balik lensa binokularnya, Olivia melihat Ruminah keluar dari rumah dengan penampilan yang sangat kontras dari suaminya. Wanita itu mengenakan daster satin berwarna ungu tua dengan riasan wajah yang cukup tebal namun terkesan murahan. Di tangannya, ia nampak membawa sebuah speaker jinjing bertenaga baterai dan sebuah mikrofon kabel yang penampilannya sudah agak rongsok karena banyak selotip hitam melilit bagian gagang mikrofon itu untuk menutupi bagian yang retak.
Ruminah adalah seorang ibu rumah tangga yang menyambung hidup dengan menjadi penyanyi dangdut keliling, atau yang biasa disebut warga lokal sebagai biduan pesisir. Hari ini, ia berjalan kaki menuju ke desa sebelah yang jaraknya sekitar dua kilometer dari kawasan Bimbo, berniat mencari peruntungan dari satu hajatan warga ke hajatan lainnya. Namun, ada satu detail yang menarik perhatian Olivia secara mendalam. Ruminah tidak pernah pergi sendirian. Ia selalu membawa putra bungsunya, Saka.
Olivia perlahan menjalankan mobilnya, mengikuti ibu dan anak itu dari jarak aman saat mereka memasuki kawasan desa tetangga yang sedang mengadakan pesta khitanan massal. Sepanjang pengamatan Olivia, Saka yang sudah beranjak remaja, kira-kira berusia sekitar empat belas atau lima belas tahun namun terlihat sangat pendiam untuk ukuran usianya. Wajahnya juga datar, matanya sayu, dan ia selalu berjalan dua langkah di belakang ibunya sambil menunduk.
Saat Ruminah mulai bernyanyi di depan tenda hajatan, mengeluarkan suara seraknya yang dipadu dengan dentuman bas dari speaker rongsoknya, Saka hanya duduk di sudut jalanan tanah. Di sinilah prasangka Olivia mulai muncul. Saka sama sekali tidak berinteraksi dengan orang-orang seusianya. Ketika ada anak-anak kecil berusia lima atau enam tahun sedang bermain kelereng atau kejar-kejaran di dekatnya, Saka justru memilih bergabung dengan mereka. Ia duduk di tanah, ikut tertawa tanpa suara, dan bermain bersama anak-anak balita tersebut.
'Apa jangan-jangan anak itu bisu? Atau dia mengalami keterbelakangan mental?' pikir Olivia sambil terus mencatat di bukunya. Selama berjam-jam mengawasi, Olivia sama sekali tidak pernah melihat atau mendengar Saka mengeluarkan satu patah kata pun. Ia hanya menggunakan bahasa isyarat tangan yang sederhana jika ibunya memanggil atau menyuruhnya memegang botol air minum. Saka seperti terperangkap di dalam tubuh remaja namun memiliki mental anak-anak, atau mungkin, ada trauma mendalam yang mengunci mulutnya rapat-rapat.
Menjelang sore hari, pekerjaan Ruminah selesai. Ia nampak memberikan tanda ke Saka, yang membuat putra bungsunya itu langsung berdiri, melambaikan tangan ke teman-teman balitanya lalu berlari kecil mengikuti ibunya bersiap untuk pulang kembali ke rumah. Namun Olivia memperhatikan perubahan fisik yang sangat drastis pada wanita itu saat mereka berjalan pulang menuju kawasan Bimbo. Ruminah yang mengawali hari dengan riasan tebal kini kelihatan jauh lebih berantakan. Rambutnya yang tadi disanggul sederhana kini acak-kadul tidak keruan akibat terpaan angin jalanan dan keringat yang mengucur deras. Wajahnya terlihat sangat letih, gurat-gurat penuaan dini terpancar jelas di bawah sisa-sisa bedak yang luntur.
Olivia mengerutkan dahinya. Apakah seharian menyanyi keliling benar-benar bisa membuat seseorang sekurus dan seletih itu? Ada sesuatu yang janggal dari rasa lelah Ruminah. Jalannya agak sempoyongan, dan genggamannya pada gagang speaker rongsok itu nampak gemetar. Olivia berspekulasi dalam hati apakah keletihan itu murni karena pekerjaan, ataukah ada beban pikiran dan rasa bersalah yang sedang menggerogoti jiwanya dari dalam sejak malam pembunuhan Broto Suryokerto.
'Seorang kepala keluarga yang pekerja keras. Seorang istri yang letih dan berantakan. Dan... seorang anak lelaki yang nampaknya bisu dan keterbelakangan mental.' Olivia menggarisbawahi catatannya sendiri lalu kembali membuntuti dua orang itu dalam perjalanan pulangnya.
***
Sementara Olivia bergelut dengan bau amis laut dan debu jalanan di pesisir, Letnan Detektif Jagat Dunia mendapatkan tugas yang jauh lebih necis. Ia bertugas memantau putri pertama keluarga Bimadi, Laras. Gadis berusia 18 tahun yang kemarin memujinya mirip Roy Marten.
Pagi itu, Jagat sudah menunggu di dekat jalan raya utama di luar kawasan Bimbo. Ia melihat Laras keluar dari rumahnya dengan penampilan yang membuat Jagat tertegun sejenak. Gadis itu mengenakan seragam kerja standar. Kemeja putih yang dibalut jas hitam formal, dipadukan dengan rok hitam sebatas lutut. Rambut hitam panjangnya diikat rapi ke belakang dalam gaya ponytail. Namun, pandangan Jagat langsung turun ke arah kakinya. Laras mengenakan sepasang sepatu pantofel hitam yang kondisinya sudah sangat mengenaskan. Kulit sepatunya sudah mengelupas di banyak bagian, sol bawahnya terlihat tipis bahkan hampir jebol di bagian tumit, dan warnanya sudah kusam tertutup debu pesisir. Itu adalah sepatu yang sudah sangat usang, mungkin bekas milik orang lain yang ia dapatkan dari pasar loak.
Karena tidak memiliki ongkos untuk naik angkutan umum, Laras menumpang di bagian belakang sebuah mobil pick-up terbuka yang kebetulan sedang mengangkut keranjang-keranjang ikan kosong menuju ke tengah kota. Laras duduk di atas lantai besi pick-up yang dingin bersama beberapa buruh pasar lainnya. Kendati demikian, sepanjang perjalanan, Jagat yang membuntutinya menggunakan sepeda motor sewaan melihat sesuatu yang luar biasa dari gadis itu. Laras tetap kelihatan sangat ceria. Ia tersenyum ramah kepada orang-orang di dalam pick-up, sesekali membetulkan ikat rambutnya yang tertiup angin, seakan-akan sepatu usang yang membungkus kakinya sama sekali bukanlah sebuah beban atau hal yang memalukan. Semangat hidupnya seolah tidak bisa dipadamkan oleh kemiskinan ekstrem yang menjerat keluarganya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, mobil pick-up itu menurunkan penumpang di dekat sebuah pusat perbelanjaan mewah di tengah kota. Laras turun dengan anggun, membersihkan rok hitamnya dari debu, lalu melangkah masuk ke dalam mall yang megah tersebut. Jagat segera memarkir motornya, merapikan jaket hitamnya, dan menyusul masuk ke dalam sana.
Ternyata, Laras diterima bekerja di salah satu toko pakaian dan sepatu bermerek yang cukup ternama di dalam mall tersebut. Di tempat itu, pekerja seperti Laras biasa disebut sebagai Store Associate atau pramuniaga—petugas yang bertanggung jawab mengatur pajangan barang, memastikan kerapian etalase, serta berdiri di depan pintu untuk menyambut dan melayani setiap tamu yang datang berkunjung.
Jagat berpura-pura menjadi pengunjung biasa, berdiri di balik pilar besar yang berjarak sekitar lima meter dari toko tersebut sambil memegang sebuah majalah fashion untuk menutupi wajahnya. Dari posisi itu, Jagat bisa mendengar dengan jelas suara bentakan dari dalam toko yang mulai memancing perhatiannya.
"Laras! Yang benar saja! Apa-apaan ini?!" suara melengking seorang wanita paruh baya terdengar bergaung. Itu adalah pemilik toko, seorang wanita bersanggul tinggi dengan perhiasan emas yang mencolok di leher dan pergelangan tangannya.
"Ini kan hari pertamamu bekerja, dan kau berani datang dengan memakai sepatu busuk seperti ini?! Kau mau merusak citra tokoku ini, hah?!"
Laras menundukkan kepalanya dalam-dalam, jemarinya meremas ujung jas hitamnya yang murah.
"Maaf, Nyonya... Hanya ini satu-satunya sepatu yang saya punya. Saya belum punya uang untuk membeli yang baru," jawab Laras dengan suara bergetar namun tetap berusaha terdengar sopan.
Seorang wanita lain, teman dari pemilik toko yang sedang duduk di sofa dalam toko sambil mengunyah permen karet, ikut menimpali dengan nada sinis.
"Inilah konsekuensinya kalau kau nekat menerima gadis dari pinggiran pesisir menjadi pekerja di tokomu, Jeng. Mereka itu tidak tahu selera kota. Sudahlah, mumpung ini baru hari pertama, lebih baik Laras ini dipecat saja sekarang juga daripada bikin malu!"
Mendengar kata "dipecat", bahu Laras nampak bergetar. Jagat yang mengamati dari luar mengepalkan tangannya di balik saku jaket. Ia bisa melihat kilatan air mata yang mulai menggenang di sudut mata Laras. Gadis itu sangat membutuhkan pekerjaan ini demi bisa membawa pulang sesuatu yang lebih layak daripada sebungkus gorengan untuk makan malam keluarganya.
Namun, sebelum pemilik toko sempat mengeluarkan deklarasi ungkapan pemecatan, sebuah keberuntungan mendadak datang. Seorang pelanggan pria paruh baya dengan pakaian necis masuk ke dalam toko. Pria itu nampaknya sedang mencari sepasang sepatu kulit formal namun terlihat bingung memilih di antara deretan etalase.
Melihat ada pelanggan kaya masuk, pemilik toko segera mengubah ekspresi wajahnya menjadi manis dan hendak menyambutnya. Namun, pria itu justru mengangkat tangannya, menolak dilayani oleh sang pemilik. Pandangannya justru tertuju pada Laras yang sedang berdiri gemetar di sudut ruangan."Maaf, saya ingin meminta rekomendasi sepatu yang cocok untuk acara gala malam ini," kata pelanggan pria itu dengan suara berat.
"Tapi, saya hanya mau kalau gadis itu yang memilihkannya untuk saya," lanjutnya sambil menunjuk ke arah Laras yang sontak membuat sang pemilik toko dan temannya langsung melempar pandangan satu sama lain.
Pemilik toko tertegun, wajahnya sempat memerah menahan malu. Namun demi keuntungan bisnis, ia langsung menoleh ke arah Laras dan menyentak pelan, "Laras! Cepat lanjutkan tugasmu! Layani tuan ini dengan baik dan jangan buat kesalahan!"
"Baik, Nyonya! Terima kasih banyak!" jawab Laras seketika. Kesedihannya menguap dalam sekejap, digantikan oleh senyuman profesional yang luar biasa hangat. Dengan cekatan dan penuh kesabaran, Laras membantu pria itu mencoba beberapa pasang sepatu, memberikan penjelasan yang jujur tanpa kesan memaksa, hingga akhirnya sang pelanggan membeli dua pasang sepatu termahal di toko itu dengan puas.
Setelah pelanggan itu pergi, pemilik toko menghampiri temannya yang tadi menyuruh memecat Laras. Dengan nada berbisik yang masih bisa ditangkap oleh telinga tajam Jagat, pemilik toko itu berkata, "Itulah alasannya kenapa aku memilih gadis pesisir itu, Jeng. Dia memiliki kecantikan yang sangat unik dan alami. Aura wajahnya bisa membuat pelanggan merasa nyaman dan betah, yang pada akhirnya membuat keuntungan toko ini semakin bertambah. Aku tidak peduli seberapa kampungannya anak itu atau sejelek apa sepatunya, selama dia bisa menghasilkan uang untukku, dia akan tetap bekerja di sini."
Temannya itu hanya bisa memutar bola matanya jengah tanpa membalas ucapan si pemilik toko seakan membenarkan kalau anak baru itu memang memiliki kecantikan yang unik, kecantikan yang berbeda dari yang lain. Sesuatu yang nampaknya bisa menjadi daya tarik tersendiri di kehidupan perkotaan seperti ini.
Jagat Dunia mengamati seluruh drama itu dari luar etalase kaca. Ia tersenyum tipis, mengeluarkan buku catatan kecilnya dari balik jas kuning menyala yang tersembunyi di dalam jaket hitamnya, lalu mulai menuliskan beberapa poin penting.
'Laras Bimadi: Memiliki ketahanan mental yang kuat karena sifat lugu dan polosnya.' Karakteristik seperti ini sebenarnya dapat dengan mudah dipancing untuk menarik informasi lebih lanjut. Informasi yang mungkin bermanfaat untuk laporan penyelidikannya.
Setelah memastikan Laras aman dalam pekerjaannya dan tidak akan ke mana-mana selama beberapa jam ke depan, Jagat memutuskan untuk berjalan-jalan mengitari area mall guna menghilangkan rasa jenuhnya. Langkah kakinya membawanya ke area atrium utama mall, tempat di mana sebuah layar LED raksasa setinggi tiga lantai terpampang di dinding tengah, menampilkan berbagai macam produk iklan komersial.
Jagat menghentikan langkahnya, mendongak menatap layar tersebut. Tepat pada saat itu, video iklan berganti. Sebuah musik latar yang megah dan penuh karisma mulai terdengar bergaung di seluruh penjuru atrium. Di atas layar LED raksasa itu, wajah Jagat Dunia sendiri terpampang dengan sangat jelas.
Itu adalah sebuah video iklan komersial sebuah produk mie instan kuah pedas yang ia bintangi beberapa bulan lalu sebelum ia ditugaskan dalam kasus ini. Di dalam iklan tersebut, Jagat mengenakan setelan jas hitam custom-made yang sangat mewah. Dengan gerakan lambat (slow motion), ia mengangkat sumpit, meniup uap panas dari mangkuk mie dengan tatapan mata yang tajam dan penuh pesona, lalu memakan mie tersebut dengan cara yang sangat karismatik seolah-olah ia sedang menikmati hidangan bintang lima di restoran Paris. Di akhir iklan, wajah Jagat melakukan close-up ke arah kamera, memberikan senyuman mautnya yang flamboyan yang dipadu dengan gerakan merapikan kumis tipisnya.
Jagat berdiri mematung di tengah kerumunan pengunjung mall, menatap iklannya sendiri dengan dada yang membusung bangga.
'Ah, aku memang terlihat sangat luar biasa di layar itu,' pikirnya dalam hati, kembali ke sifat narsistiknya yang kumat. Ia bahkan sengaja sedikit membetulkan posisi jaket hitamnya dan membelai kumis tipisnya di dunia nyata, menyamakan gerakannya dengan sosok dirinya yang ada di dalam video LED. Namun, momen narsisme Jagat mendadak buyar ketika sebuah suara pekikan melengking terdengar dari arah samping belakangnya.
"Roy Marten!"
Jagat seketika tersentak kaget hingga hampir melompat dari posisinya. Ia menoleh dengan cepat ke arah sumber suara dengan jantung yang berdegup kencang karena terkejut. Di sana, tepat di sampingnya, berdiri Laras. Gadis itu nampaknya sedang memanfaatkan waktu istirahat siangnya untuk keluar toko sebentar, dan langkahnya terhenti di atrium karena melihat tayangan iklan tersebut.