BIMBO

nuralitayu
Chapter #5

GADIS BIMBO

Markas Kepolisian.

Pintu ruangan bercat kelabu itu tertutup rapat, meredam hiruk-pikuk kantor kepolisian yang mulai melandai di penghujung hari. Di balik meja kayu kecokelatan yang kokoh, Kepala Kepolisian kota duduk dengan jemari yang saling bertautan. Tatapan matanya yang tajam dan sarat pengalaman terarah lurus pada dua detektif terbaiknya yang baru saja kembali dari lapangan. Jagat Dunia dan Olivia Wilde.

Di atas meja, beberapa lembar berkas laporan dan foto-foto terbaru dari kawasan Bimbo sudah tersebar. Suasana di dalam ruangan terasa berat dan menuntut. Kedua detektif itu sudah berkeliaran selama seharian, Kepala Kepolisian tentu saja menginginkan sesuatu yang jelas untuk dapat ia dengar.

"Jadi," Kepala Kepolisian membuka suara, suaranya yang berat memecah keheningan.

"Kalian berdua sampai mengabaikan jam pulang hanya untuk berdiri di ruanganku. Aku berasumsi ada perkembangan yang sangat krusial dari tempat kejadian perkara yang kalian selidiki?"

Olivia Wilde maju satu langkah. Ia menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk menyampaikan potongan informasi paling liar yang ia dapatkan sore tadi.

"Sangat krusial, Komandan. Hari ini aku bukan hanya mengintai target utama, keluarga Bimadi tapi juga memutuskan untuk membaur dan mendekati para tetangga di sekitar kediaman keluarga Bimadi di kawasan Bimbo. Aku memancing obrolan dengan kedok sebagai pengantar paket yang mencari keberadaan korban, Broto Suryokerto."

Olivia menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah Jagat yang berdiri di sampingnya dengan pose flamboyan, tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana dan punggung bersandar pada pilar ruangan.

"Hasilnya? Para tetangga langsung mengarahkan paket itu untuk dititipkan ke rumah Ruminah, istri dari Budi Bimadi. Ketika aku bertanya apa hubungannya Ruminah dengan sang rentenir, mereka membisikkan sebuah rahasia yang selama ini tertutup rapat di balik dinding-dinding perumahan kumuh itu. Ruminah... katanya adalah selingkuhan dari korban, Broto Suryokerto."

"Apa?!"

Bukan Kepala Kepolisian yang berteriak, melainkan Jagat Dunia. Detektif flamboyan itu seketika menegakkan tubuhnya, matanya membelalak lebar dengan ekspresi yang campur aduk antara tidak percaya dan syok berat. Jagat menepuk dahinya sendiri, lalu menoleh ke arah Olivia dengan tatapan tak habis pikir.

"Selingkuhan? Drama macam apa lagi ini?!" gerutu Jagat setengah berbisik, masih berusaha mencerna informasi tersebut. Lagaknya sudah seperti penonton sinetron petang hari yang menemukan bahwa ada cerita perselingkuhan dalam tontonannya. Olivia mengarahkan telunjuknya datar sebagai penanda bahwa ia belum selesai bercerita.

"Yang saya dengar Ruminah dan korban memang punya kedekatan yang khusus. Broto Suryokerto terkenal tanpa ampun akan melakukan kekerasan setiap ada rumah di kawasan itu yang telat melakukan pembayaran, tapi rumah keluarga Bimadi nampaknya punya sedikit pengecualian. Setiap Ruminah memohon dan meminta untuk diberi keringanan, Broto akan mengiyakannya dan setuju untuk melakukan penambahan waktu pembayaran. Lalu, pada beberapa kesempatan ada yang melihat Broto menemani Ruminah saat bernyanyi di desa sebelah, sepertinya tanpa sepengetahuan suaminya. Rumor perselingkuhan pun mencuat di kawasan itu. Rumor yang mengatakan bahwa korban mungkin punya hubungan terselubung dengan Ruminah," lanjut Olivia menjelaskan yang langsung disambar cepat oleh Jagat lagi.

"Wanita berdaster dengan rambut acak-acakan yang kita temui kemarin adalah simpanan dari rentenir beringas itu? Astaga, selera Broto benar-benar di luar nalar."

Olivia mendengus pelan melihat reaksi atasannya.

"Fokus, Jagat. Ini bukan soal selera, ini soal motif."

Kepala Kepolisian tidak menyela, ia hanya mengetuk-ngetukkan pena ke atas meja, memberi isyarat agar laporan dilanjutkan. Jagat berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya yang sempat runtuh. Ia melangkah mendekati meja atasannya dan meletakkan sebuah catatan kecil.

"Baik, kalau begitu giliranku, Komandan. Di waktu yang bersamaan, aku membuntuti putri pertama mereka, Laras, yang hari ini mulai bekerja di mall tengah kota. Dan dari penuturan gadis itu sendiri, aku menemukan sebuah kedekatan yang teramat janggal antara dirinya dan Broto Suryokerto."

Jagat menjabarkan hasil interogasi terselubungnya selama makan siang dengan detail.

"Laras bisa mendapatkan pekerjaan di toko retail mewah itu karena rekomendasi langsung dari Broto. Kemeja, jas, bahkan rok kerja yang melekat di tubuhnya hari ini... semuanya dibelikan oleh Broto. Rentenir itu bahkan berjanji akan membelikannya sepasang sepatu baru sebelum dia berakhir tewas di tempat pembuangan sampah. Broto selalu memuji Laras sebagai gadis paling cantik di seluruh pesisir."

Mendengar penuturan Jagat dan Olivia secara berurutan, Kepala Kepolisian perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Pria paruh baya itu mendelik, matanya beralih dari Jagat ke Olivia, lalu kembali menatap lembaran bagan keluarga Bimadi di atas meja. Keheningan mencekam kembali menguasai ruangan selama beberapa detik ketika mereka bertiga mendadak menemukan sebuah pattern, sebuah pola yang sangat jelas dari hasil penyelidikan hari itu.

"Satu keluarga, satu korban, dan dua hubungan yang sangat tidak sehat," gumam Kepala Kepolisian dengan nada dingin. Ia menatap kedua detektifnya bergantian.

"Bagaimana dengan insting detektif kalian berdua? Apakah kalian masih mencurigai keluarga miskin di rumah reyot itu sebagai dalang utama dari kasus pembunuhan ini?"

"Tentu saja, Komandan. Seratus persen," jawab Jagat tanpa ragu sedikit pun.

Olivia mengangguk setuju, menguatkan argumen rekan kerjanya.

"Benar, Komandan. Meski kemarin malam keluarga miskin itu terlihat bersikap normal, ramah, bahkan mengajak kami makan malam bersama dengan sebungkus gorengan yang dibagi-bagi, Jagat dan aku dapat merasakan ada sesuatu yang sangat besar yang sedang mereka sembunyikan. Sikap ceria Laras yang terlalu polos, kepatuhan Saka si anak bungsu yang membisu, kecanggungan Ruminah dan ketenangan Budi sang ayah dan kepala keluarga itu... semuanya terasa seperti sebuah topeng yang dipasang dengan sangat rapi. Apalagi sekarang, setelah kita menemukan hubungan gelap keluarga mereka dengan korban Broto Suryokerto."

Olivia melangkah lebih dekat ke meja kerja, jemarinya menunjuk pada nama Ruminah.

"Mari kita bedah polanya. Jika Ruminah benar-benar memiliki hubungan terlarang dengan Broto Suryokerto, itu sudah menjadi dasar yang sangat kuat untuk melahirkan sebuah pembunuhan. Secara logika, keluarga mereka yang memiliki utang menumpuk dengan Broto saja sudah bisa menjadi motif utama bagi siapa pun di kawasan itu untuk melakukan pembunuhan demi membebaskan diri dari jeratan finansial di perekonomian sekarang. Apalagi kalau urusannya sudah menyangkut harga diri dan perselingkuhan. Celah untuk membunuh Broto Suryokerto bertambah menjadi dua kali lipat."

"Persis," sahut Jagat, menyambung analisis Olivia dengan taktis.

"Mari kita lihat dari sudut pandang sang kepala keluarga, Budi Bimadi. Jika Ruminah dan Broto berselingkuh secara sembunyi-sembunyi tanpa sepengetahuan Budi, dan kemudian pada suatu malam lelaki itu akhirnya mengetahui dikhianati... itu adalah badai kemarahan yang luar biasa. Seorang suami yang mendapati istrinya tidur dengan pria yang menindas keluarganya dengan utang? Itu sudah lebih dari cukup sebagai dasar yang kuat bagi Budi Bimadi untuk menghabisi nyawa Broto Suryokerto malam itu juga."

Suasana di dalam ruangan semakin memanas seiring dengan potongan-potongan motif yang semakin solid. Olivia tidak berhenti di situ, ia menambahkan satu kemungkinan yang jauh lebih gelap yang bersumber dari laporan Jagat.

"Dan jangan lupakan Laras, Komandan," lanjut Olivia dengan binar mata yang tajam.

"Broto memiliki kedekatan yang teramat janggal dengan putri sulung keluarga itu. Berdasarkan hasil penyelidikan Jagat, bisa jadi Laras dipaksa, atau kepolosannya dimanfaatkan oleh Broto demi memuaskan nafsu bejatnya. Mengingat karakter Broto yang beringas, sangat besar kemungkinan telah terjadi sesuatu yang buruk di sana, seperti pelecehan atau pemaksaan terselubung dengan kedok bantuan pekerjaan."

Olivia menatap Kepala Kepolisian dengan serius.

"Jika Budi Bimadi atau bahkan Ruminah menyadari bahwa monster itu tidak hanya menghancurkan kehidupan pernikahan mereka, tapi juga mulai menyentuh anak gadis mereka yang masih remaja... itu bukan lagi sekadar pembunuhan biasa. Itu adalah aksi balas dendam total atas nama pelindung keluarga. Semuanya terasa menjadi sangat mungkin dan sangat kuat, Komandan. Semua lini dalam keluarga Bimadi memiliki alasan untuk menginginkan kematian Broto Suryokerto."

Napas Olivia agak memburu setelah menjabarkan seluruh analisis panjangnya. Ia menatap atasannya penuh harap.

"Jadi, bagaimana, Komandan? Apakah dengan semua motif berlapis ini, kita sudah bisa bergerak? Apakah kami sudah bisa menangkap dan membawa seluruh anggota keluarga Bimadi ke ruang interogasi?"

Kepala Kepolisian terdiam. Ia mengambil pena taktisnya kembali, mengetuk-ngetukkannya ke dagu sembari memandangi foto tempat kejadian perkara di mana mayat Broto ditemukan bersimbah darah di antara tumpukan limbah pesisir. Sebagai seorang pimpinan, ia tidak boleh bergerak hanya bermodalkan asumsi dan gosip jalanan, sekukuh apa pun insting kedua detektifnya.

Lihat selengkapnya