Studio foto milik Rafi Gunawan terletak di lantai dua sebuah bangunan tua kolonial di kawasan Blok M. Kontras dengan kemegahan rumah Anya di Menteng yang serbaputih dan steril, tempat ini berbau kayu tua, cairan kimia kamar gelap, dan kopi hitam. Dindingnya berupa bata ekspos tanpa plester, dipenuhi pajangan foto hitam-putih—wajah-wajah buruh pelabuhan Pelabuhan Ratu, kerutan di dahi nenek penjual jamu, dan potret anak-anak jalanan ibu kota. Raw. Tanpa polesan.
Anya datang tanpa pengawalan tim manajemen pribadinya. Ia hanya ditemani seorang sopir yang menunggu di dalam mobil Alphard hitam di seberang jalan. Mengenakan kemeja linen kasual dan kacamata hitam besar, Anya melangkah masuk dengan perasaan asing sekaligus berdebar.
"Mbak Anya Pramesti?"
Seorang pria berambut agak gondrong yang diikat asal keluar dari balik sekat kayu. Ia mengenakan kaos hitam pudar yang lengannya digulung, celana kargo, dan sepasang sepatu bot kulit yang tampak usang. Kamera Leica tua menggantung di lehernya. Pria itu adalah Rafi Gunawan. Tidak ada binar kekaguman di matanya saat menatap Anya—sebuah reaksi yang jarang Anya temui dari orang-orang yang biasanya langsung mengenali wajah 2,8 juta pengikutnya.
"Ya, Mas Rafi. Terima kasih sudah meluangkan waktu," ujar Anya, mengulurkan tangan.
Rafi menyambutnya dengan genggaman erat dan hangat. "Sama-sama. Jujur, saya sempat kaget waktu manajer Mbak menghubungi saya. Portofolio saya dokumenter jalanan dan konflik, bukan foto editorial majalah fesyen atau konten *lifestyle*."
Anya tersenyum tipis, duduk di atas kursi kayu tinggi di tengah studio. "Justru karena itu saya di sini, Mas. Saya bosan dengan foto yang terlalu bersih. Saya butuh sesuatu yang... berbeda untuk portofolio personal saya. Anggap saja ini proyek idealis."
Rafi tidak langsung menjawab. Ia mengangkat kameranya, membidik tanpa aba-aba.
*Cklik.*
Anya langsung mengencangkan otot wajahnya secara otomatis. Refleks seorang influencer: dagu agak turun, sudut bibir terangkat tiga milimeter, mata berbinar ramah. Posenya sempurna.
Rafi menurunkan kamera, melihat hasilnya di layar digital kecil, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Bukan yang seperti itu, Mbak Anya. Kalau pose itu yang Mbak mau, fotografer amatir dengan ponsel pintar pun bisa melakukannya."
Anya agak tersentak. Tersinggung, sekaligus penasaran. "Maksudnya?"