BINAR CAHAYA INFLUENCER

ahmadbarnash
Chapter #4

Kebocoran-Kebocoran Kecil

Sunda Kelapa di sore hari berbau garam, solar, dan kayu lapuk. Di antara deretan kapal pinisi kayu yang bersandar megah di dermaga, Anya melangkah dengan canggung. Ia menanggalkan gaun desainer dan tas Hermes-nya, menggantinya dengan celana kulot katun polos dan kemeja putih longgar. Namun, bagi mata jeli Rafi, aroma parfum Chanel No. 5 yang samar tetap mengkhianati asal-usul wanita itu.

"Seni dari fotografi jalanan adalah menjadi tidak terlihat," ujar Rafi, berjalan selangkah di depan Anya sembari sesekali membidik kuli panggul yang tengah menurunkan karung semen. "Mbak Anya terlalu biasa menjadi pusat perhatian. Di sini, belajarlah menjadi pengamat."

Anya tersenyum kecil. Angin laut menerbangkan beberapa helai rambutnya yang sengaja dibiarkan terurai. Anehnya, ia tidak merasa risih dengan keringat yang mulai membasahi pelipisnya. Di sini, di antara debu pelabuhan dan teriakan para pelaut, tidak ada kamera *smartphone* yang diarahkan padanya dengan tatapan menilai. Tidak ada yang peduli apakah ia seorang *top influencer* atau bukan.

Mereka berhenti di sebuah warung kopi pinggir dermaga. Rafi memesankan dua gelas es teh manis dalam gelas kaca tebal. Anya meminumnya dengan ragu, namun rasa manis yang pekat segera membasuh tenggorokannya yang kering.

"Kenapa Mas Rafi memilih hidup seperti ini?" tanya Anya, menatap jemari Rafi yang terampil membersihkan lensa kamera dengan kain mikrofiber. "Dengan bakatmu, kamu bisa dengan mudah masuk ke industri fesyen komersial, memotret model papan atas, atau bekerja untuk agensi besar. Uangnya jauh lebih banyak."

Rafi menghentikan gerakannya, lalu menatap Anya. Senyumnya tipis, menyiratkan kedewasaan yang tenang. "Uang itu penting, Mbak Anya. Tapi bagi saya, kamera adalah alat untuk merekam kebenaran. Di dunia fesyen komersial, semua orang dibayar untuk berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diri mereka. Saya tidak punya energi untuk merayakan kepalsuan."

Anya terdiam. Kata "kepalsuan" terasa menghujam tepat ke jantungnya.

"Pernahkah kamu merasa... terjebak?" suara Anya merendah, hampir tenggelam oleh suara mesin kapal yang menyala di kejauhan. "Terjebak dalam versi diri yang diinginkan orang lain?"

Rafi meletakkan kameranya di atas meja kayu yang agak reot. Ia menatap Anya dengan intensitas yang membuat napas wanita itu tertahan sejenak. "Setiap hari, sebagian besar orang di Jakarta mengalami itu. Tapi bedanya, Mbak Anya membangun penjaranya sendiri, mengecat dindingnya dengan warna emas, dan mengundang 2,8 juta orang untuk menonton dari balik jeruji."

Anya terpaku. Matanya mendadak terasa panas. Kalimat Rafi begitu telanjang, menelusuri retakan terdalam dalam jiwanya yang selama ini ia tutupi dengan kosmetik mahal dan narasi kebahagiaan. Belum sempat ia membalas, ponsel di kantong kemejanya bergetar.

Lihat selengkapnya