Asap rokok mengepul lambat di bawah temaram lampu meja studio Blok M. Jam dinding menunjukkan pukul 01.30 WIB. Di luar, suara rintik hujan sisa sore tadi masih terdengar ritmis menghantam kanopi jendela. Rafi Gunawan duduk bersandarkan kursi kayu, tatapannya terpaku pada layar monitor 27 inci yang menyala terang di hadapannya.
Layar itu menampilkan puluhan foto Anya Pramesti hasil kurasi dari Pelabuhan Sunda Kelapa.
Rafi mengklik satu foto. Di sana, Anya sedang menatap laut dengan rambut yang berantakan diterpa angin. Tidak ada senyum kepalsuan. Hanya ada kesunyian yang pekat, seolah wanita itu sedang lenyap ke dalam pikirannya sendiri. Jari Rafi menggantung di atas papan tik. Dada pria itu bergemuruh oleh konflik batin yang mulai menggerogoti akal sehatnya.
Anya tidak pernah tahu. Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan yang puitis.
Dua bulan lalu, seorang pria paruh baya berjas necis mendatangi studio ini. Pria itu bukan pencinta seni foto dokumenter. Ia adalah kepala firma hukum sekaligus konsultan strategi dari **Mahardika Land**, kompetitor utama Ardiansyah Group milik Reza. Mereka tahu Reza sedang mengincar proyek reklamasi dan apartemen mewah bernilai triliunan rupiah. Mereka juga tahu, benteng terkuat sekaligus terlemah dari Reza Ardiansyah adalah citra keluarganya yang super-sempurna di mata publik dan investor.
*"Cari celahnya. Dekati istrinya,"* kata pria berjas itu sambil meletakkan selembar cek dengan angka yang cukup untuk melunasi seluruh utang studio Rafi dan membiayai pameran tunggalnya di galeri internasional. *"Istrinya haus perhatian. Reza terlalu sibuk. Buat skandal yang cukup untuk meruntuhkan kredibilitas moral keluarga mereka sebelum peluncuran saham kuartal depan."*
Rafi, yang saat itu terdesak kebutuhan finansial untuk mempertahankan studionya, menerima tawaran itu. Ia mengira tugasnya mudah: menjebak seorang perempuan manja, haus validasi, dan dangkal yang hidup demi angka pengikut di media sosial.
Namun, kamera tidak pernah berbohong. Dan melalui lensa Leica-nya, Rafi justru menemukan hal yang sebaliknya.
Anya bukanlah monster egois hasil ciptaan dunia digital. Wanita itu adalah korban dari sebuah sistem korporat yang kejam. Setiap kali Rafi menekan rana kamera, yang tertangkap bukanlah kedangkalan, melainkan sebuah jiwa yang sedang perlahan mati lemas di dalam sangkar emas. Keautentikan Anya yang rapuh—ketika ia menghapus air mata kasat mata di sudut pelabuhan, atau ketika ia tertawa lepas karena hal-hal kecil—justru meruntuhkan profesionalisme Rafi sebagai seorang "pemburu cerita".
Rafi telah jatuh cinta pada targetnya sendiri.