Malam itu, jam perak di dashboard Alphard menunjukkan pukul 23.45 WIB. Jakarta baru saja diguyur hujan lebat, meninggalkan aspal jalanan Blok M yang basah dan memantulkan pendar lampu neon berwarna-warni. Anya duduk di kursi belakang, masih mengenakan kebaya brokat sutra rancangan desainer ternama dan perhiasan berlian yang dipaksakan Reza untuk ia kenakan di acara makan malam bersama Komisaris Bank Bumi Nusantara.
Makan malam itu sukses besar bagi Reza. Kontrak kredit ratusan miliar berhasil diamankan. Sepanjang acara, Anya tersenyum manis, memegang lengan Reza, dan menjadi pajangan tropi yang sempurna. Namun, begitu masuk ke dalam mobil, Reza langsung sibuk dengan laptopnya, bahkan tidak mengucapkan terima kasih sebelum turun di depan hotel lain untuk "rapat kelanjutan".
Anya muak. Ia tidak ingin pulang ke rumah Menteng yang sepi.
"Pak Joko, berhenti di depan apotek itu saja. Saya mau turun," perintah Anya tiba-tiba.
"Tapi, Bu, ini sudah malam..."
"Tidak apa-apa, Pak. Saya mau jalan sebentar mencari udara segar. Bapak pulang saja duluan, nanti saya pulang pakai taksi daring." Suara Anya tidak menerima bantahan.
Sopirnya tidak punya pilihan selain patuh. Dengan langkah cepat, Anya berjalan menyusuri trotoar Blok M, membiarkan ujung kebaya mahalnya terkena cipratan air hujan. Langkah kakinya menuntunnya kembali ke satu-satunya tempat yang belakangan ini terasa nyata: tangga kayu menuju studio Rafi.
Saat pintu studio diketuk, Rafi membukanya dengan wajah terkejut. Ia melihat Anya berdiri di sana, basah kuyup oleh gerimis, dengan riasan wajah yang sedikit luntur, namun matanya memancarkan keputusasaan yang luar biasa.
"Anya? Ada apa?"
Anya tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, dan langsung menghambur ke pelukan Rafi. Beban seberat berton-ton yang ia pikul selama lima tahun terakhir runtuh begitu saja. Rafi terpaku sejenak, batinnya berteriak tentang misi rahasia dan cek dari Mahardika Land, namun kehangatan tubuh Anya dan debar jantung wanita itu yang berpacu cepat meruntuhkan akal sehatnya. Rafi memeluknya balik, sangat erat.
Di dalam studio yang hanya diterangi lampu indikator kamera yang berwarna merah sungsang, batas-batas profesionalitas itu menguap. Anya menatap Rafi, mencari sepasang mata yang selalu melihatnya tanpa filter. Ketika bibir mereka bertemu, itu bukan lagi sekadar ciuman; itu adalah pemberontakan Anya terhadap sangkar emasnya, dan penyerahan total Rafi terhadap rasa bersalahnya.