BINAR CAHAYA INFLUENCER

ahmadbarnash
Chapter #8

Malam Sebelum Badai

Teras rumah Menteng itu bermandikan cahaya temaram lampu taman otomatis ketika Anya melangkah turun dari taksi. Angin malam membawa aroma tanah basah sisa hujan, dingin dan menusuk hingga ke balik kemeja linennya. Kehangatan pelukan Rafi beberapa jam lalu terasa menguap begitu saja begitu ia menatap pintu jati ganda setinggi tiga meter yang berdiri angkuh di hadapannya.

Rumah ini tidak pernah terasa seperti rumah. Lebih mirip sebuah museum di mana ia dikontrak sebagai kurator sekaligus salah satu benda pajangannya.

Saat Anya mendorong pintu masuk, ia mengernyit. Suasana rumah terlalu sunyi. Tidak ada suara tawa Kayla atau langkah kaki Arka yang biasanya sedang bermain di ruang tengah bersama Mbak Siti pada jam segini. Hanya ada gemuruh pelan dari mesin pendingin ruangan.

"Siti?" panggil Anya, suaranya menggantung di udara kosong.

"Anak-anak sudah saya suruh bawa ke rumah Ibu di Kebayoran sejak sore tadi."

Sebuah suara berat memotong dari arah ruang tengah yang gelap. Sesaat kemudian, sebuah sakelar ditekan. Lampu kristal gantung di atas ruang tamu menyala secara bertahap, membanjiri ruangan dengan cahaya putih yang menyilaukan.

Reza Ardiansyah duduk di sofa kulit kelabu. Ia masih mengenakan kemeja kerja tanpa dasi, lengan kemejanya digulung hingga siku. Di atas meja kaca di hadapannya, sebuah gawai tablet tergeletak dengan layar yang menampilkan draf foto HD dari Pelabuhan Sunda Kelapa.

Jantung Anya mencelos. Lututnya mendadak lemas, seolah seluruh pasokan darah di tubuhnya ditarik paksa ke bawah.

"Mas... kamu sudah pulang?" Anya mencoba menstabilkan suaranya, meski getaran di ujung kalimatnya tak mampu ia sembunyikan.

Reza tidak bangkit. Ia bahkan tidak menunjukkan ekspresi kemarahan yang biasa ditunjukkan oleh seorang suami yang mendapati istrinya berselingkuh. Matanya sedingin es, menatap Anya seolah sedang menilai sebuah properti yang mengalami penurunan nilai pasar secara drastis.

"Duduk, Anya," perintah Reza, nadanya datar dan tenang. Justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk Anya meremang.

Anya melangkah perlahan, duduk di kursi tunggal yang berseberangan dengan Reza. Jarak dua meter di antara mereka terasa seperti jurang pemisah yang tak berjembatan.

Lihat selengkapnya