Sementara Anya terkapar tak berdaya di atas lantai marmer kamar mandi Menteng, ruang rapat lantai 22 Ardiansyah Group Tower telah berubah menjadi ruang perang siber (*cyber war room*). Hari Minggu yang seharusnya tenang berganti menjadi kepanikan korporat. Pendingin ruangan mendesing rendah, beradu dengan ketukan cepat jemari belasan operator media sosial dari Nexus Branding Agency yang sengaja dipanggil darurat.
Di ujung meja rapat oval, Reza Ardiansyah berdiri tegak. Ia tidak lagi mengenakan kemeja kusut semalam. Penampilannya telah dikurasi ulang: kemeja putih polos tanpa kerah tipis yang memberikan kesan religius namun modern, dipadukan dengan celana kain gelap. Wajahnya sengaja tidak dicukur bersih—menyisakan bayangan jenggot tipis untuk memperkuat impresi seorang suami yang terlalu lelah dan terluka untuk memikirkan penampilan.
"Bagaimana pergerakan saham prapembukaan?" suara Reza memecah keheningan, dingin dan presisi.
Citra, Direktur Komunikasi Publik, langsung menyalakan proyektor. "Ada sentimen negatif sebesar 78% yang langsung berdampak pada pencarian nama perusahaan kita, Pak. Beberapa investor dari konsorsium Singapura sudah mengirim surel menanyakan stabilitas manajemen pasca-berita ini viral. Jika kita diam sampai besok pagi saat pasar saham dibuka, kita bisa minus hingga 4,5% di sesi pertama."
Reza mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja. "Kita tidak akan diam. Bomnya sudah meledak, sekarang saatnya kita mengarahkan serpihannya."
Ia menatap pria muda berkacamata di sebelah Citra—Roni, kepala strategi digital dari agensi *black-hat* PR yang biasa mereka sewa untuk pengalihan isu politik dan korporasi.
"Roni, bagaimana kesiapan timmu?"
Roni membenarkan letak kacamata, lalu membuka laptopnya yang menampilkan dasbor ribuan akun robot dan *influencer* mikro yang siap digerakkan.
"Pasukan lini pertama sudah masuk ke kolom komentar X dan TikTok sejak pukul 06.00 WIB tadi, Pak. Strateginya adalah *'De-escalation through Martyrdom'*. Kita tidak menyangkal foto-foto itu. Justru kita membenarkannya secara tidak langsung, namun dengan *framing* bahwa Bapak adalah korban tunggal yang dizalimi secara sistematis oleh konspirasi kompetitor bisnis yang memanfaatkan kerapuhan istri Bapak."
Roni mengklik sebuah draf dokumen. "Kami sudah menyiapkan 500 akun dengan pengikut di atas 10 ribu untuk menaikkan narasi ini. Teksnya sudah divariasikan agar terlihat organik. Narasi utamanya: *'Pak Reza adalah suami saleh yang fokus kerja demi anak istri, tapi dikhianati oleh gaya hidup bebas lingkaran seni Jakarta.'*"
Reza tersenyum tipis. Sangat tipis hingga hampir tak terlihat. "Bagus. Pastikan juga serang fotografer itu. Kuliti masa lalunya, cari tahu semua proyeknya yang gagal, dan bangun opini bahwa dia adalah predator sosial yang sengaja menjebak istri pengusaha kaya demi uang."