BINAR CAHAYA INFLUENCER

ahmadbarnash
Chapter #13

Konfrontasi Dua Sisi

Ketakutan terbesar melahirkan nekat yang paling dingin. Pukul dua siang, memanfaatkan momen ketika Reza sedang keluar untuk konferensi pers darurat dan para penjaga depan sedang lengah memesan makan siang, Anya melarikan diri. Ia tidak membawa tas mewah atau dompetnya. Ia hanya mengenakan hoodie hitam kebesaran, masker medis, topi bisbol yang ditarik rendah, dan sebuah ponsel cadangan lama yang ia temukan di laci rias.

Ia menyelinap melalui gerbang samping dekat tempat pembuangan sampah, lalu berjalan cepat sejauh lima ratus meter sebelum menyetop taksi pelat kuning yang melintas secara acak.

"Blok M, Pak. Dekat bangunan tua seberang apotek," suara Anya bergetar, matanya terus melirik ke kaca spion belakang, takut melihat ada mobil hitam milik suaminya yang membuntuti.

Sepanjang perjalanan, isi kepala Anya bising oleh satu pertanyaan yang menyiksa: *Apakah Rafi bagian dari kepalsuan ini?* Jika benar pria itu mendekatinya hanya demi uang dari kompetitor Reza, maka seluruh sisa dunianya telah runtuh.

Ketika taksi berhenti, Anya melempar selembar uang seratus ribu tanpa meminta kembalian. Ia berlari menaiki tangga kayu studio Blok M yang berderit. Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu yang ternyata tidak terkunci.

*Brak!*

Rafi sedang duduk di lantai di samping tumpukan gulungan rol film yang berantakan. Ruangan itu berantakan, mencerminkan keputusasaan pemiliknya. Pria itu mendongak, matanya yang cekat dan menghitam langsung melebar begitu melihat sosok di ambang pintu.

"Anya? Kamu... kok bisa di sini? Di luar bahaya banget buat kamu!" Rafi langsung bangkit, melangkah maju hendak meraih pundak Anya.

"Jangan sentuh aku!" pekik Anya, suaranya melengking tinggi, sarat akan luka dan histeria. Ia mundur dua langkah, menatap Rafi dengan mata yang dipenuhi air mata dan kilat amarah. "Jawab jujur, Mas. Jawab jujur demi apa pun yang tersisa dari warasmu. Kamu... dibayar oleh Mahardika Land untuk menjebakku?"

Lihat selengkapnya