Kamar apartemen sewaan di bilangan Jakarta Selatan itu berukuran tidak lebih dari tiga puluh meter persegi. Dindingnya dicat putih seadanya, menyisakan bau sisa semen dan kelembapan yang mengendap. Di atas kasur tanpa dipan, Anya meringkuk di bawah selimut tipis. Satu-satunya benda mewah yang tersisa di dekatnya hanyalah ponsel cadangan lama yang layarnya retak di sudut kiri atas.
Ia mencoba membuka aplikasi Instagram, mengetik nama akunnya sendiri: **@anyapramesti**.
Sebuah bilah merah muncul di layar: *“Galat: Akun Anda telah ditangguhkan sementara.”* Tim PR Reza telah melaksanakan ancaman mereka. Aksesnya ke 2,8 million pengikutnya telah diputus total. Ia telah didepak dari kerajaannya sendiri, dikurung di dunia nyata tanpa suara, sementara namanya di luar sana terus dikuliti.
Keterasingan ini justru memicu kegilaan baru. Anya tidak bisa hidup dalam kegelapan informasi. Dengan tangan bergetar dan napas yang memburu, ia mendaftarkan sebuah akun baru. Tanpa foto profil. Tanpa biodata. Hanya sebuah nama acak yang disuguhkan oleh sistem otomatis platform: **@user992837110**.
Sebuah *burner account*. Akun pengintai.
Lewat lubang intip digital inilah, Anya kembali terjun ke dalam neraka yang diciptakan publik untuknya. Ia mulai berselancar di kolom komentar unggahan akun gosip, video parodi TikTok, hingga unggahan *podcast* yang mendiskusikan kejatuhannya. Namun kali ini, ia tidak lagi diam. Di bawah pengaruh sisa obat penenang dan keputusasaan yang memuncak, Anya mulai mengetik balasan demi balasan, mencoba membela dirinya sendiri di bawah kedok anonimitas.
### **[KOLOM KOMENTAR GOSIP INSTAGRAM – INTERAKSI AKUN PENGINTAI]**
> **@pembasmi.kehaluan.reall:** *[Mengunggah kolase foto pelarian Anya di Blok M dengan narasi: "Udah salah, bukannya tobat malah nyamperin selingkuhan. Gimana nih menurut warga?"]*
>