BINAR CAHAYA INFLUENCER

ahmadbarnash
Chapter #16

Air Mata di Layar Kaca

Studio podcast **"The Hendra Wijaya Show"** dikenal sebagai ruang eksekusi sekaligus ruang pengampunan publik terbesar di Indonesia. Dengan latar belakang dinding hitam kedap suara, lampu sorot neon kuning yang dramatis, dan dua mikrofon kondenser seharga puluhan juta rupiah, di sinilah reputasi para tokoh publik dipertaruhkan.

Reza Ardiansyah duduk di kursi kulit hitam berhadapan dengan Hendra Wijaya, sang pemandu acara bertubuh kekar yang terkenal dengan tatapan matanya yang interogatif.

Reza telah menghitung setiap detail penampilannya hari ini. Kemeja putihnya sengaja sedikit kusut di bagian kerah. Di atas meja, tepat di samping cangkir kopinya, ia meletakkan sebuah boneka kelinci rajut kecil berwarna merah muda—mainan kesayangan Kayla. Sebuah alat peraga psikologis yang sempurna untuk memicu empati instan penonton.

"Mas Reza... terima kasih sudah hadir di tengah situasi yang pastinya sangat berat ini," Hendra memulai dengan suara baritonnya yang berat, merendahkan intonasi untuk menciptakan atmosfer intim. "Publik luar biasa gempar dalam 48 jam terakhir. Bagaimana kondisi anak-anak?"

Reza terdiam sejenak. Ia menurunkan pandangannya, menatap boneka kelinci di atas meja, lalu menarik napas panjang yang terdengar berat melalui mikrofon. Efek dramatis yang sengaja ia tahan selama tiga detik sebelum mendongak dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

"Anak-anak... mereka masih terlalu kecil untuk paham, Mas Hendra," suara Reza bergetar, berwibawa namun rapuh di saat yang sama. "Arka tadi pagi nanya, *'Bunda di mana, Pa? Kok kamar Bunda dikunci?'* Saya... saya ga bisa jawab. Saya cuma bisa peluk dia sambil nangis. Hati saya hancur, Mas. Sebagai seorang ayah, melihat anak kehilangan figur ibu dalam semalam itu... adalah kegagalan terbesar hidup saya."

Hendra Wijaya mengangguk pelan, wajahnya memasang ekspresi simpati yang mendalam. "Banyak spekulasi di luar sana. Ada yang bilang ini konspirasi bisnis, ada juga yang bilang... ini murni karena retaknya hubungan domestik. Apakah Mas Reza tahu tentang hubungan istri Anda dengan fotografer tersebut sebelum foto-foto itu bocor?"

Reza menggeleng perlahan. Ia menyeka sudut matanya dengan ujung telunjuk—sebuah gerakan taktis yang terlihat sangat natural.

"Saya sama sekali tidak tahu, Mas. Saya ini orang lapangan, pengusaha properti. Waktu saya habis di proyek untuk memastikan masa depan anak-istri saya terjamin. Saya akui, mungkin saya kurang memberikan waktu romantis untuk Anya. Tapi apakah kesibukan seorang suami mencari nafkah halal bisa dijadikan pembenaran untuk... melakukan hal sejauh itu? Di tempat umum? Di studio pria lain?"

Reza menjeda kalimatnya, membiarkan keheningan studio memberikan penekanan pada kata-katanya.

Lihat selengkapnya