Senin pagi, jarum jam di sudut kanan atas monitor ruang kendali siber Nexus Branding Agency menunjuk pukul 08.00 WIB. Hari bursa baru saja dibuka, dan sebuah badai lain—yang kali ini murni bersifat hukum dan finansial—meluncur dari arah yang tak terduga.
Sebuah portal berita investigasi independen, Kanal Fakta, mengunggah laporan utama mereka yang langsung disalin oleh ratusan akun agregator berita di X dan Telegram.
[BREAKING NEWS] Dokumen Bocor: Proyek Green Ardiansyah Hills Diduga Suap Pejabat Dinas Tata Ruang Senilai 45 Miliar Rupiah untuk Amdal Fiktif.
Selama dua jam pertama, grafik pencarian di Google Tren menunjukkan kepanikan yang nyata di kubu Ardiansyah Group. Kata "Reza Korupsi" dan "Suap Amdal" merangkak naik, mengancam akan menenggelamkan narasi martir yang sudah dibangun Reza dengan susah payah di podcast Hendra Wijaya kemarin malam. Investor-investor institusi mulai melepas lembar saham mereka, membuat kurva performa emiten properti itu memerah.
Namun, kapitalisme modern memiliki algoritma yang jauh lebih menyukai skandal selangkangan ketimbang korupsi korporat.
Di lantai 22, Reza berdiri menatap dasbor analitik siber bersama Roni. Wajahnya tidak panik. Ia justru melihat laporan keuangan dan pergerakan tren dengan kalkulasi seorang sosiopat.
"Sentimen korupsi ini bisa membunuh IPO kita, Roni," ujar Reza, menyalakan sebatang rokok premiumnya. "Netizen tidak boleh fokus pada angka 45 miliar itu. Alihkan. Beri mereka makan daging yang lebih segar."