Kamar mandi apartemen sewaan itu tidak memiliki lampu LED hangat dengan spektrum warna yang bisa diatur, tidak ada marmer Carrara, dan sama sekali tidak ramah kamera. Di bawah pendar lampu neon putih murah yang berkedip setiap beberapa detik sekali, Anya Pramesti berdiri diam menatap cermin di atas wastafel yang retak rambut.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan kaca yang dingin.
Wajah yang memantul di sana terasa seperti wajah orang asing. Tanpa riasan dasar berlapis, tanpa perona pipi yang biasanya ia pulas dengan teknik *sun-kissed*, dan tanpa filter *“Smooth Skin v.2”* yang selalu mengaburkan pori-porinya di layar gawai. Kulitnya tampak pucat kekuningan, lingkaran hitam di bawah matanya bengkak dan berwarna keunguan pekat—buah dari malam-malam panjang yang dihabiskan untuk membaca keputusannya sendiri di kolom komentar. Rambutnya kering, mencuat kusut di beberapa sisi, kehilangan kilau magis dari vitamin rambut mahal yang dulu sering ia promosikan di Reels hari Senin.
Dua koma delapan juta orang pernah memuja ilusi dari wajah ini. Kini, yang tersisa hanyalah cangkangnya. Manusia asli di balik nama Anya Pramesti telah diperas habis oleh industri pencitraan, lalu dibuang begitu warnanya berubah menjadi abu-abu kotor.
"Ini aku," bisik Anya parau. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. Kesunyian apartemen ini begitu padat, tipe kesunyian yang membuat detak jarum jam dinding murahan terdengar seperti ketukan palu hakim yang berulang-ulang.
*Bzzzt.*
Ponsel cadangan di atas kasur bergetar sekali. Bukan getaran beruntun dari ribuan penyuka digital, melainkan sebuah getaran tunggal dari sebuah akhir. Anya melangkah lambat, menyeret kakinya yang terasa berat, lalu memungut gawai tersebut.
Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk dari nomor Risa—asisten pribadi sekaligus orang yang selama tiga tahun terakhir memegang jadwal harian, menyiapkan pakaian anak-anak sebelum syuting konten, dan menyaring draf *endorsement*-nya.